AlgoritmaNews Adalah Situs Berita Perkembangan Teknologi Terkini Yang Ter Update Setiap Hari | Mulai Dari Berita Teknoligi, Sains, Perbintangan, NASA, Satelit, Tips Trik Mengatasi Masalah Yang Terjadi Pada Prangkat Teknologi dan Masih Banyak Info Menarik Lainya.
Promo Web Hosting 500mb Bw Unlimited Cuma Rp.50rb Untuk 10 Pendaftar Pertama Order disini

Showing posts with label Angkasa. Show all posts
Showing posts with label Angkasa. Show all posts

NASA Saksikan Komet Menabrak Matahari

NASA telah merilis gambar video dari komet yang menabrak matahari awal bulan ini, setelah kejadian tersebut berhasil direkam oleh pesawat tanpa awak milik lembaga antariksa Amerika Serikat (AS) tersebut.

SoHo, sebuah Heliospheric Observatory yang merupakan operasi gabungan Eropa dan AS tersebut, merupakan pesawat tanpa awak pertama yang melihat komet tersebut menabrak matahari. Komet tersebut menimbulkan ekor yang panjang sebelum menghilang setelah tertelan matahari.

Komet tersebut masuk ke dalam daftar 10 komet teratas dari 2 ribu komet yang pernah dilihat oleh SoHo menabrak matahari, semenjak pertama kali diluncurkan pada tahun 1995. Demikian seperti yang dikutip dari SkyMania.

Satelit kembar NASA lainnya yang bernama Stereo juga melihat peristiwa tersebut dari sudut pandang yang berbeda. Komet tersebut diidentifikasi sebagai jenis Kreutz, sebuah pecahan dari komet raksasa yang terpisah dari bagian aslinya, sekira 2 ribu tahun yang lalu, mungkin dikarenakan orbitnya yang dekat dengan matahari.

Jenis komet Kreutz ini dinamakan setelah Heinrich Kreutz, seorang ahli astronomi Jerman abad 19, yang mempelajari komet-komet yang menabrak matahari, yang dianggap sebagai hal lumrah.

Sebelumnya tidak ada komet yang begitu dekat dengan Matahari, meski pada bulan Maret 2010 melalui coronograph SoHo, terdeteksi pula sebuah komet jenis Kreutz juga mendekati Matahari, dan mungkin akan mengalami nasib yang sama dengan yang lain.



Refrensi

Misi NASA Terbaru Jelajah Gunung di Mars

NASA mengumumkan telah membuat sebuah laboratorium bergerak yang berfungsi untuk mengungkap apa yang ada di Planet Mars. Pembuatan laboraturium tersebut menghabiskan dana fantastis yaitu USD2,5 miliar.

Benda ini dijuluki 'Curiosity' yang memiliki misi untuk melihat tanda-tanda kehidupan di Mars. Kendaraan ini dikendalikan secara otomatis dan tidak berawak. Meskipun demikian, benda ini mampu mendaki gunung yang ada di sana.

Laboratorium ini dilengkapi dengan enam roda mekanik dan akan menjelajah kawah Gale, karena disana terdapat gunung yang tinggi. Ini akan membantu para ilmuwan mempelajari tanah liat dan kandungan sulfat pada tiap tingkat ketinggian gunung tersebut.

"Para ilmuwan mengidentifikasi Gale sebagai pilihan utama mereka untuk mengejar tujuan misi penjelajah yang baru," kata Jim Green, direktur Divisi Planetary Science di Markas NASA di Washington.

"Lab ini memberikan pemandangan visual yang dramatis dan juga potensi besar untuk penemuan ilmu pengetahuan yang penting,"tambahnya, seperti dikutip Straits Times.

Penjelajahan ini dikenal dengan Mars Science Laboratory (MSL), guna menemukan adanya tanda-tanda kehidupan dan makhluk hidup disana. Diketahui saat ini hanya ada tanda bahwa beberapa kehidupan mikroba mungkin telah ada di kedalaman kawah yang mungkin mengandung air.

NASA sebelumnya akan membuat pesawat Spirit dan Opportunity yang akan membawa manusia ke planet Mars di tahun 2030.



refrensi

Pesawat Atlantis Terakhir Tiba di ISS

Atlantis secara dramatis mendarat di Stasiun Antariksa Internasional (ISS) dua hari setelah peledakan dalam perjalanan bersejarah pesawat terakhir NASA.

Menulis bab terakhir mengenai sebuah cerita 30 tahun kemenangan dan tragedi yang dialami NASA selama ini, akan selesai dengan berhasilnya pesawat terakhir merapat di ISS. Astronot menghabiskan sebagian besar hari pertama mereka di orbit pesawat ruang angkasa untuk memeriksa apakan ada kerusakan dari peluncuran pada Jumat lalu.

Atlantis sekarang akan melanjutkan misinya untuk memberikan lebih dari empat ton persediaan dan suku cadang ke ISS serta membersihkan sampah dan mengambil sebuah pompa yang rusak untuk nantinya dibawa kembali ke Bumi untuk diperiksa. Awak Atlantis akan memberikan satu tahun pasokan penting ke Stasiun Antariksa Internasional dan kembali dengan membawa sampah sebanyak mungkin. Pesawat ini dijadwalkan pulang pada 20 Juli setelah 12 hari di orbit. Demikian seperti dikutip Daily Mail.

Ini perjalanan terakhir dengan Atlantis dan waktunya dapat diregangkan hingga 13 hari jika daya yang cukup dapat dilestarikan. Cuaca memungkinkan, pesawat akan kembali ke Kennedy Space Center, di mana ia akan dipajang untuk publik. Sebelumnya Discovery dan Endeavour sudah pensiun lebih awal dan sedang disiapkan untuk museum di seluruh negeri.

Kemarin pagi, para astronot terbangun pukul 03:59 pagi dengan mendengarkan lagu Viva la Vida dari Coldplay. Lagu tersebut didedikasikan untuk pilot Doug Hurley, serta ucapan massal dari banyak karyawan NASA Marshall Space Flight Center di Huntsville.

"Selamat pagi, Atlantis, 'The Marshall Space Flight Center berharap Anda menikmati perjalanan Anda ke orbit. Kami juga berharap Anda menyelesaikan sebuah misi ini dengan sukses dan pulang ke rumah dengan aman," ujar para pekerja dalam sebuah rekaman pesan sebelum peluncuran.

"Terima kasih untuk pesan dan kesempatan besar mengendarai pesawat luar biasa ke orbit dan sebelumnya dengan program pesawat ulang alik 134 yang luar biasa," jawab pilot Doug Hurley.

NASA telah menetapkan tujuan jangka panjang terbang ke asteroid dan akhirnya ke Mars. "Nikmati sedikit waktu di sini dengan keluarga Anda kembali. Tapi kami punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Kami punya program lain yang kita harus dapatkan langsung, "kata NASA Administrator, Charles Bolden yang merupakan tim pengendalian peluncuran setelah Atlantis mencapai orbit.

"Kami tahu apa yang kita lakukan. Kita tahu bagaimana untuk sampai ke sana. Kami hanya harus meyakinkan orang lain bahwa kita tahu apa yang kita lakukan,"pungkasnya.

NASA Siapkan Rencana Darurat untuk Atlantis

Sebagai langkah antisipatif, NASA siapkan rencana darurat untuk penerbangan pesawat ulang-alik Atlantis, apabila terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan saat di luar angkasa nanti.

Seperti yang dikutip dari Softpedia, setiap misi penerbangan luar angkasa memiliki rencana darurat, yakni sebuah rencana cepat tanggap apabila terjadi sesuatu hal yang dianggap darurat.

Endeavour dan Discovery sudah nonaktif, setelah menyelesaikan misi penerbangan angkasa mereka awal tahun ini. Oleh karena itu, mustahil bagi kedua pesawat tersebut untuk dimasukkan ke dalam msis penyelamatan di rencana darurat ini.

NASA akhirnya beralih ke opsi International Space Station (ISS). Jadi jika penerbangan Atlantis gagal di orbit rendah Bumi, maka keempat astronotnya harus ikut bergabung dengan tim Expedition 28 di stasiun luar angkasa tersebut.

Hal ini dilakukan jika pesawat yang membawa para astronot tersebut dinilai tidak aman untuk memasuki kembali atmosfir Bumi, contohnya jika perisai penahan panas rusak parah atau terjadi kerusakan sistem.

Selanjutnya di rencana ini, pihak resmi NASA mengatakan bahwa ISS harus mampu mengakomodir kru Atlantis sampai pesawat luar angkasa Soyuz dapat menolong mereka. Meskipun begitu, rencana ini mungkin tidak terlalu bagus, karena kapsul Soyuz hanya mampu menampung tiga astronot saja.

"Semenjak peristiwa meledaknya pesawat Columbia di tahun 2003, kami kini memiliki program tanggap darurat untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan pasca peluncuran," ujar Chris Ferguson, Komandan misi STS-135 Atlantis dari NASA.

"Lalu karena tidak ada pesawat cadangan untuk misi ini, kami hanya bisa bergantung pada pilihan alternatif, entah melalui kapsul angkasa Soyuz maupun hal lainnya," tambahnya.

NASA bersama Russian Federal Space Agency (RosCosmos) juga sepakat untuk mengirimkan empat kapsul angkasa Soyuz selanjutnya, dengan hanya dua astronot di dalamnya. Hal ini dilakukan demi mencegah ditundanya program rotasi kru pesawat Atlantis di rencana misi penyelamatan tersebut.

Rahasia Terbesar Planet Venus

Meski planet kedua di tata surya ini memiliki nama serupa dewi cinta Roma namun planet ini tak penuh cinta. Untuk permulaan, permukaan planet ini mencapai 900 derajat Fahrenheit.

Karenanya, planet kedua ini dinobatkan sebagai planet terpanas di tata surya. Lebih buruk lagi, selimut tebal karbon dioksida menekan 92 kali tekanan atmosfer Bumi di lanskap kering. Awan kusam yang menghalangi pandangan pada permukaan planet itu merupakan asam sulfur.

Seperti dibayangkan, mempelajari Venus terbukti menjadi pekerjaan sulit. Sedikit demi sedikit, ilmuwan mempelajari lebih banyak mengenai tetangga Bumi ini. Berikut beberapa misteris terbesar mengenai obyek paling terang di langit setelah matahari dan bulan.



1. Iklim serupa Bumi

Venus kadang disebut sebagai ‘kembaran jahat’ Bumi. Dalam ukuran, komposisi dan lokasi orbit, neraka Venus sebenarnya planet termirip Bumi. Di awal sejarah Venus, para ilmuwan menduga dunia itu sangat mirip Bumi, dengan lautan dan iklim lebih dingin.

Namun, lebih dari beberapa miliar tahun, efek rumah kaca yang ada sangat berpengaruh. Venus sekitar sepertiga lebih dekat matahari dibanding Bumi. Karenanya, Venus mendapat sinar matahari dua kali lebih banyak. Panas ekstra ini menyebabkan penguapan hebat di awal permukaan air.

Pada akhirnya, uap air terperangkap panas yang lebih panas. Pemanasan lebih lanjut planet ini memicu penguapan yang lebih besar hingga akhirnya lautan pun mengering dan menghilang. “Mekanisme ini masuk akal dari Venus awal yang seperti Bumi menjadi Venus saat ini,” kata kurator Astrobiologi David Grinspoon di Denver Museum of Nature & Science.

Ilmuwan interdisipliner pada misi Venus Express, pesawat ruang angkasa yang mengorbit Venus sejak 2006, ini mencari tahu kapan persisnya dan bagaimana Venus menjadi ‘tungku’ untuk membantu pemodelan perubahan iklim Bumi dan menghindarkan Bumi dari nasib serupa Venus.



2. Atmosfer berotasi super

Venus memutari porosnya jauh lebih lambat dari Bumi. Alhasil, setahun di Venus serupa 243 hari di Bumi. Berdasar hal ini, diketahui angin di puncak awan Venus bisa mencapai 360 km/jam atau 60 kali kecepatan memutar planet.

Secara proporsional, jika angin serupa muncul di Bumi, angin awan khatulistiwa mencapai kecepatan menakjubkan, 9.650 km/ jam. Pendorong cepatnya rotasi Venus adalah energi sinar matahari, papar Grinspoon. Namun, cara kerja penuh fenomena ini tetap menjadi misteri.



3. Berputar terbalik

Saat dilihat dari kutub utara matahari, semua planet di tata surya mengorbit matahari dengan arah berlawanan dan semuanya hampir berputar searah sumbunya. Namun tidak untuk Venus. Planet kedua ini memiliki rotasi retrograde seperti Uranus.

Artinya, matahari terbit dari barat dan terbenam di timur di planet itu. Perputaran searah jarum jam ini mungkin hasil tabrakan kosmik awal dalam sejarah Venus.



4. Petir misterius

Petir dari awan Venus hingga kini masih menjadi pertanyaan terbuka. Meski pesawat ruang angkasa Venus Express telah ‘mendengar’ elektromagnetik statis yang secara karakteristik menghasilkan petir di Bumi, kamera belum pernah ‘menangkap’ petir ini, kata Grinspoon.

Cara terbentuknya petir ini juga masih misterius. Di Bumi, peran kunci dimainkan kristal es awan. Di Venus, pasokan bahan ini sangat sedikit dijumpai di atmosfernya yang sangat kering.



5. Kehidupan Alien di Venus?

Grinspoon mengakui adanya argumen masuk akal mengenai kehidupan Venus, bukan di permukaan planet yang super panas itu namun di awannya. Sekitar 50 km di atas awan seharusnya ada tempat yang bisa dihuni yang memiliki tekanan dan suhu seperti Bumi.

Untuk mendapat energi, makhluk mengambang menyerupai bakteri bisa menggunakan sinar matahari atau bahan kimia di awan. Tentunya, makhluk ini akan mentolerir asam sulfat. Di sisi lain, extremophiles di Bumi menunjukkan, kehidupan bisa berkembang di lingkungan paling keras sekalipun. “Sangat perlu menjelajah awan karena beragam alasan. Salah satunya kemungkinan keberadaan kehidupan eksotis ini,” tutup Grinspoon.



6. Perbandingan Planet, Matahari, Bintang, Nebula, Galaksi


Jarak Terjauh Bumi-Matahari

Bumi akan berada pada jarak paling jauh dari Matahari, yakni 152.102.196 kilometer. Akibatnya, matahari akan tampak 3 persen lebih kecil dari biasanya. Namun, perbedaan ini tentu tidak tampak dengan mata telanjang. Posisi Bumi yang menjauhi matahari juga tidak memengaruhi cuaca Bumi.
"Perbedaannya mungkin tidak kentara, tetapi jelas dapat diukur," kata Mark Hammergen, astronom dari Adler Planetarium, Chicago, Amerika Serikat.
Jarak Bumi terhadap Matahari selalu berubah karena orbit Bumi tidak berbentuk lingkaran sempurna, tetapi elips. Fenomena ini dijelaskan secara detail untuk kali pertama dengan perhitungan matematika oleh astronom Jerman, Johannes Kepler, pada abad ke-17.
Bentuk elips memungkinkan Bumi berada pada posisi paling dekat dengan Matahari (disebut perihelion) dan posisi paling jauh (dikenal afelion).
Meskipun Bumi berada pada posisi lebih jauh dari Matahari, belahan Bumi bagian utara tetap merasakan musim panas. "Hal tersebut disebabkan oleh kemiringan Bumi yang memengaruhi musim," kata Hammergen. Saat ini, sumbu utara-selatan Bumi berada pada kemiringan 23,4 derajat.
Kebetulan, Kutub Utara tengah menghadap Matahari saat Bumi berada pada posisi afelion. "Artinya, siang akan lebih panjang daripada malam pada Bumi belahan utara," ucap Hammergen.


Sumber :
National Geographic Indonesia

Pesawat Terakhir Siap Diluncurkan

Pesawat ulang alik Atlantis, satu-satunya pesawat aktif yang dimiliki NASA saat ini, akan diluncurkan bulan depan, tepatnya Jumat, 8 Juli 2011. Pesawat itu rencananya akan diluncurkan pada pukul 11.26 EDT atau sekitar pukul 22.00 WIB.
Peluncuran tersebut akan menjadi misi pesawat ulang alik ke 135 sekaligus menjadi akhir karir Atlantis. Sebelumnya, pesawat ulang alik Discovery dan Endeavour juga telah mengakhiri karirnya, masing-masing pada tanggal 10 Maret 2011 dan 1 Juni 2011 lalu. Berakhirnya misi Atlantis nantinya sekaligus menjadi akhir misi penerbangan pesawat ulang alik AS.
Selanjutnya, penerbangan astronot ke International Space Station akan dititipkan pada pesawat Rusia. Tim astronot yang akan berangkat dengan Atlantis adalah komandan Christophe Fergusson, Pilot Douglas Hurley, serta spesialis misi Sandra Magnus dan Rex Walheim.
Saat ini, mereka sedang menjalani latihan di Launch Pad 39A, Kennedy Space Center NASA, Florida, AS. Misi Atlantis nantinya akan berlangsung selama 12 hari. Atlantis akan mengangkut 8000 pound (sekitar 4 ton) suku cadang dan bahan-bahan yang diperlukan astronot ke ISS.
Tim Atlantis juga akan melakukan tes kemungkinan melakukan pengisian ulang bahan bakar dengan bantuan robot. Hal paling menarik, selain membawa suku cadang, Alantis nantinya juga akan membawa dua unit iPhone 4 untuk pertama kalinya ke luar angkasa dalam rangka uji coba.
Berangkat dengan Atlantis, iPhone 4 ini nantinya akan pulang dengan pesawat Rusia, Soyuz, pada musim gugur tahun 2011. Sebuah aplikasi bernama SpaceLab for iOS telah ditanamkan pada iPhone 4 yang akan dikirim. Aplikasi yang juga bisa di-download di App Store dengan harga 0,99 dollar AS akan dipakai untuk membantu melakukan 4 eksperimen, disebut Limb Tracker, Sensor Cal, State Acuisition dan LFI. Limb tracker adalah eksperimen navigasi yang juga mencakup pengambilan gambar Bumi.
Eksperimen ini akan menghasilkan perkiraan ketinggian diukur dari permukaan Bumi dan sudut "off axis", pengukuran sudut gambar relatif terhadap pusat Bumi. Eksperimen lain disebut State Acuisition melibatkan penggunaan gyroscope dan accelerometer.
Sementara eksperimen lain adalah pengukuran efek radiasi yang ditimbulkan iPhone. Setelah semua misi berakhir, Atlantis akan pulang ke Bumi dan dikirim ke museum, seperti yang dialami Discoverydan Endeavour.

Alasan Banda Langit Sering Jatuh Ke Bumi

Saat ini kita semakin sering mendengar berita benda langit jatuh ke Bumi. Muncul pertanyaan, apakah tahun 2011 frekuensi jatuhnya benda-benda langit ke Bumi semakin bertambah? Tidak menurut pihak Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN).

Profesor Dr Thomas Djamaluddin, pakar Astronomi dan Astrofisika dari LAPAN mengatakan bahwa banyaknya berita mengenai benda langit jatuh yang kita dengar akhir-akhir ini, bukan berarti frekuensinya semakin meninggi, melainkan karena semakin baiknya sistem pemantau benda langit kita.

"Frekuensi jatuhnya benda-benda langit seperti asteroid di Bumi tahun ini masih normal, tapi karena semakin canggihnya sistem pemantau benda langit, membuat ilmuwan kini semakin mudah untuk mengidentifikasi serta mengumumkannya kepada masyarakat," jelas Thomas.

Thomas memaparkan bahwa tiap malam asteroid berukuran kecil pasti ada yang masuk ke atmosfir Bumi. "Hal tersebut sangat biasa terjadi, sementara untuk yang ukuran besar masuk ke atmosfir Bumi sekali dalam dua tahun,"

"Asteroid 2011 MD yang akan melintasi Bumi malam ini termasuk dalam kategori yang dua tahun sekali," kata Thomas.

Thomas menjelaskan bahwa asteroid 2011 MD akan melintasi Bumi nanti pukul 24:00 WIB, namun hanya akan terlihat di wilayah Kutub Selatan dan Afrika saja.

"Untuk wilayah Indonesia mungkin bisa dilihat dengan menggunakan teleskop, namun akan terlihat sangat kecil dan redup sekali," pungkas Thomas.

NASA Siapkan Misi ke Mars

NASA akan kembali meluncurkan pesawat ulang-alik ke planet Mars pada musim gugur mendatang. Pesawat itu sudah tiba di Florida untuk menjalani ujicoba terakhir.

Sebuah pesawat kargo C-17 yang membawa pesawat ulang-alik itu berangkat dari markas Angkatan udara di California dan tiba di Florida Rabu waktu malam waktu setempat.

Para insinyur NASA akan menghabiskan beberapa bulan ke depan untuk memastikan pesawat ini siap diluncurkan November nanti. Demikian dilansir Straits Times.

Pesawat senilai USD2,5 miliar ini sebenarnya direncanakan meluncur pada 2009 lalu. Sayangnya, NASA mengalami hambatan ketika mempersiapkan misi itu dan terpaksa menunda peluncuran pesawat.

Curiousity, nama pesawat itu, direncanakan mendarat di permukaan Mars pada Agustus 2012. NASA berharap Curiousity bisa membantu mereka mempelajari apakah lingkungan planet merah bisa mendukung kehidupan mikroba.

Misi ini ditangani oleh Jet Propulsion Laboratory NASA, yang sebelumnya dikenal sebagai Mars Science Laboratory.

Komet Baru Akan Melintasi Bumi Tahun 2013

Sebuah komet baru akan melintasi Bumi pada tahun 2013, dan akan bisa dilihat dengan mata telanjang, ujar para ahli astronomi.

Teleskop Pan-STARRS 1 di Hawaii mendeteksi sebuah komet yang disebut C/2011 L4 (PANSTARRS). Lalu penemuan tersebut diikuti dengan penelitian beberapa hari sesudahnya. Demikian seperti yang dikutip dari Space.com.

"Komet tersebut akan mendekat dengan jarak 50 juta km dari Matahari pada bulan Februari atau Maret 2011; sebuah jarak yang sama dengan planet Merkurius," ujar para peneliti.

Selama jarak terdekatnya itu, komet C/2011 L4 (PANSTARRS) akan dapat dilihat dari Bumi di langit sebelah barat setelah matahari terbenam.

"Komet tersebut memiliki orbit mirip dengan sistem parabolik, yang berarti komet tersebut adalah kali pertama mendekati matahari, setelah itu tidak akan kembali lagi," ujar Richard Wainscoat dari University of Hawaii. Wainscoat adalah salah satu orang yang ikut mengkonfirmasi keberadaan dari komet baru tersebut.

Saat ini, C/2011 L4 (PANSTARRS) berjarak 1,2 miliar km dari Matahari, yang menempatkannya di belakang orbit planet Jupiter. Jadi, saat ini cukup sulit bagi ilmuwan untuk melihatnya.

Teleskop Pan-STARR 1 menemukan komet baru tersebut ketika sedang meneliti langit mengenai kemungkinan ancaman asteroid yang membahayakan Bumi. "Tapi komet C/2011 L4 (PANSTARRS) sendiri tidak membahayakan planet kita," ujar pihak peneliti.

Dalam beberapa bulan ke depan, para ahli astronomi akan terus mempelajari komet C/2011 L4 (PANSTARRS).
 

Iran Akan Kirim Monyet ke Luar Angkasa

Iran berencana mengirimkan monyet ke luar angkasa dalam waktu dekat. Rencana tersebut diungkapkan oleh pejabat tertinggi dalam bidang antariksa di Iran. Penerbangan rencananya akan dilakukan di antara 23 Juli 2011 hingga 23 Agustus 2011.
Kapsul seberat 285 kilogram akan membawa seekor monyet ke ketinggian 120 kilometer. Peluncuran akan dilakukan menggunakan roket Kavoshgar-5. "Pengiriman ini langkah awal sebelum mengirimkan manusia pada 2020," kata Hamid Fazeli, kepala Space Organization.
Iran pernah mengirimkan hewan-hewan kecil, seperti tikus, kura-kura, dan cacing, bersama roket Kavoshgar 3 pada tahun 2010.
Peluncuran roket Kavoshgar-5 ini dilakukan setelah pengiriman satelit Rassad-1 ke ketinggian 260 kilometer di atas Bumi. Satelit yang mengorbit bumi 15 kali dalam waktu 24 jam tersebut digunakan untuk mengambil foto planet dan mengirimkan gambar.
Pengiriman satelit oleh Iran-pertama kali pada 2009-menjadi perhatian negara-negara Barat. Mereka khawatir Iran menggunakan proyek luar angkasa dalam rangka mengembangkan senjata nuklir. Tapi, Teheran memastikan tidak ada agenda yang berkaitan dengan nuklir dan ambisi militer berkedok sains.

Cahaya Misterius dari Bintang yang Mati

Tanggal 28 Maret lalu, ilmuwan dikejutkan oleh cahaya misterius dan sangat terang yang ditangkap oleh satelit Swift milik NASA. Cahaya tersebut begitu terang dan berasal dari galaksi yang berjarak milyaran tahun cahaya dari Bumi.
Semula, ilmuwan menduga bahwa cahaya itu berasal dari ledakan sinar gamma. Namun, ilmuwan ragu sebab cahaya yang ditangkap bertahan dalam hitungan bulan sementara cahaya dari ledakan sinar gamma hanya dalam hitungan jam.
Joshua Bloom, astronom dari University of California, Berkeley dan timnya kemudian menyelidiki. Mereka mempublikasikan hasilnya di jurnal Science.
Akhirnya diketahui bahwa cahaya tersebut muncul karena sebuah bintang dilahap oleh Lubang Hitam. Lubang hitam dengan gaya tariknya yang tinggi seolah menghisap bintang. Begitu bintang terlahap, energi dilepaskan dan cahaya yang begitu terang muncul.
"Kejadian ini sangat berbeda dari yang pernah kita lihat sebelumnya," kata Bloom. Ilmuwan mengungkapkan, kejadian ini berlangsung di "jantung" galaksi yang berjarak 3,8 milyar tahun cahaya dari Bumi.
Dapatkah kejadian serupa terjadi di galaksi Bimasakti? Andrew Levan, peneliti dari University of Warwick yang juga turut terlibat dalam observasi mengungkapkan, kemungkinan tersebut bisa saja ada tapi peluangnya kecil.

Jupiter Menyapa, Bulan Masih Merona

Momen gerhana bulan total yang terjadi Kamis (16/6/2011) dini hari tadi istimewa sebab totalitasnya merupakan salah satu yang terpanjang dalam kurun waktu 100 tahun terakhir. Berdasarkan perkiraan NASA, totalitas berlangsung selama 100 menit dan bisa disaksikan hingga pukul 04.05 WIB tadi.

Bagi yang langsung tidur atau pulang satelah puncak gerhana, mereka patut menyesal. Pasalnya menjelang pukul 05.00 WIB, Jupiter pun menampakkan dirinya menyapa Bulan yang masih saja merona. Bila dilihat lebih detail, satelit planet terbesar tata surya itu pun bisa terlihat.

"Tuh ada Jupiter. Bagi yang bosan ngamat Bulan, bisa lihat Jupiter," kata Muhammad Rayhan, koordinator Himpunan Astronom Amatir Jakarta yang memfasilitasi pengamatan di Planetarium Taman Ismail Marzuki dengan menyediakan 5 teleskop. Ratusan orang memadati sejak sebelum tengah malam dan usai puncak gerhana sekitar pukul 02.30 WIB, mereka pun pulang.

Jupiter juga teramati oleh astronom amatir Ma'rufin Sudibyo yang melakukan pengamatan dari RS PKU Muhammadyah Gombong. "Saya juga lihat Jupiter tadi," ungkapnya.

Ia juga mengaku melihat Planet Venus walaupun hanya samar-samar. Dalam pengamatan, Jupiter berada di timur. Planet tersebut tampak berwarna putih dan berukuran kecil. Di dekatnya, tampak ada bintik kecil yang menunjukkan satelitnya.

Jupiter sebenarnya memiliki cincin namun tak terlihat karena sangat tipis. Momen Jupiter yang menyapa saat gerhana boleh jadi sebuah momen langka. Untuk gerhananya sendiri, bila terlewat, masih ada satu kesempatan menyaksikan di bulan Desember 2011. Boleh jadi ini gerhana paling romantis sebab akan terjadi di malam Minggu

Astronot Mabuk Angkasa

Astronot Jepang, Satoshi Furukawa nge-tweet dari International Space Station (ISS) kalau ia menderita sindrom 'mabuk laut'.

"Gejala mabuk angkasa menyerang saya. Terutama ketika saya menggerakkan kepala secara tiba-tiba, saya merasa sangat pusing. Kepala saya terasa berat. Tolong!" tulis Dr Furukawa, yang juga seorang dokter, di akun Twitter-nya. Demikian seperti yang dikutip dari AFP.

Furukawa tiba di International Space Station pekan lalu bersama dengan astronot Amerika Serikat Mike Fossum dan kosmonot Rusia Sergei Volkov, setelah melakukan perjalanan menggunakan pesawat Soyuz milik Rusia. Ketiga astronot tersebut akan berada di ISS selama enam bulan untuk melakukan beberapa eksperimen.

"Dari segi medis, saya tidak memiliki masalah kesehatan. Tapi sekira 2/3 penerbang luar angkasa pertama akan mengalami gejala 'mabuk angkasa'. Hal ini terjadi karena otak berusaha beradaptasi terhadap antigravitasi," jelas Furukawa di tweet-nya, mengenai masalah mabuk angkasanya.

"Kepala Anda akan terasa berat. Tapi tidak akan menjadi masalah besar karena gejala tersebut sifatnya hanya sementara," tambahnya

Pada wawancara pada bulan Mei yang di-posting di situs Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA), Furukawa mengatakan bahwa ia tertarik untuk melihat bagaimana tubuh manusia beradaptasi di luar angkasa.

"Saya sangat tertarik untuk melihat bagaimana rasanya apabila perut terisi penuh di luar angkasa. Saya harap nanti di luar angkasa, kami bisa melaporkan bagaimana perbedaan kondisi tubuh antara di luar angkasa maupun di Bumi," ungkapnya di wawancara tersebut.

"Sebagai contoh, jika teman astronot saya merasa sakit, maka saya bisa menelitinya serta membandingkan dengan teknik pengobatan di Bumi," pungkasnya.

Kelompok Supernova Paling Terang

Studi terbaru astronom mengungkap supernova baru yang pada saat ledakan bersinar hingga sepuluh kali lebih cemerlang daripada supernova pada umumnya. Ada enam rekaman supernova yang sangat cemerlang dan tidak bisa dijelaskan dengan teori ledakna bintang yang ada saat ini sehingga supernova tersebut kemungkinan harus dikelompokkan dalam jenis baru. Studi tersebut dipublikasikan dalam jurnal Nature teranyar.

Ledakan supernova terjadi jika suatu bintang dengan massa setidaknya sepuluh kali massa Matahari mencapai akhir masa kehidupannya. Ketika itu, sang bintang yang sekarat melepaskan materi radioaktif berupa gas-gas panas hingga menghasilkan ledakan cahaya terang.

Robert Quimby, peneliti perbintangan di California Institute of Technology, Pasadena, mengatakan bahwa dalam ratusan tahun fenomena supernova diamati, belum pernah ada tipe seperti ini. "Kami kira kami sudah melihat segalanya, sehingga temuan ini sangat tidak terduga," ujar Quimby yang dengan timnya melakukan pengamatan ini dengan teleskop Samuel Oschin di California's Palomar Observatory.

Ia mencatat, supernova dapat mengubah evolusi dari galaksi itu sendiri. Sebab supernova mampu meniupkan gas dari galaksi asalnya serta menambahkan muatan untuk mengisi ruang antara tata bintang di galaksi dengan elemen yang lebih berat. "Berarti generasi bintang-bintang berikutnya bisa jadi berbeda secara susunan," simpulnya.

Dalam makalah yang dipublikasikan 8 Juni 2011 itu, ada enam supernova yang mendapat pengelompokan baru. Empat di antaranya telah merupakan temuan baru dan dua lainnya telah diketahui namun membuat para ilmuwan bingung. Antara lain, supernova dengan kode SN 2005ap, yang ditemukan tahun 2007 dan tercatat sebagai supernova paling terang serta SCP 06F6, yang ditemukan tahun 2008 karena memancarkan spektrum yang lain sama sekali dengan supernova umumnya.

Hujan Api di Permukaan Matahari

Lidah api matahari meletus pada Selasa (7/6/2011) pagi. Uniknya, letusan tidak menyebabkan lidah api ke angkasa, melainkan kembali ke matahari, menciptakan hujan berbentuk mahkota.

Peneliti surya asal NASA Jack Ireland mengaku belum pernah melihat kejadian seperti ini. Letusan terbilang berukuran sedang, tetapi plasma yang mengandung magnet yang dilontarkan lidah api--disebut filamen--bisa berukuran 10 kali Bumi. Kejadian letusan itu terjadi dalam jangka waktu beberapa jam.

Filamen yang besar biasanya terlepas dari medan magnet matahari dan melewat ke luar angkasa. Demikian penjelasan dari ilmuwan NASA Alex Young. Hanya saja pada kejadian kali ini, filamen kembali ke matahari. "Kemungkinan tidak punya energi yang cukup," katanya.

Hujan plasma tidak jatuh tegak lurus ke matahari, tetapi mengikuti garis medan magnet yang tidak tampak. Beberapa material tertarik ke titik terang aktivitas magnetik, yang disebut area aktif. "Medan manget dari area aktif itu menarik plasma. Sesuatu yang belum pernah saya lihat sebelumnya," kata Young.

Kejadian itu terekam oleh Solar Dynamics Observatory milik NASA. Kejadian tersebut sendiri tidak akan berefek pada Bumi. "Tak perlu khawatir. Nikmati saja keindahannya," kata Young.

Pemburu Komet Masuki Masa Hibernasi

Rosetta, wahana antariksa si pemburu komet yang telah beroperasi 10 tahun, segera memasuki masa hibernasi. Pada masa ini sebagian perangkat wahana antariksa ini akan mati. Bahkan, wahana antariksa ini akan putus kontak dengan pengendali misi di Bumi.

Paolo Ferri, pimpinan Divisi Operasinal Misi Planet dan Matahari di Space Operation Center Eurpean Space Agency (ESA), mengatakan, "Hibernasi adalah langkah penting untuk mencapai target final." Hibernasi penting untuk penghematan energi sehingga bisa menempuh jarak jauh dari matahari.

Selama masa hibernasi, hanya perangkat komputer dan beberapa pemanas yang akan tetap hidup, menjaga agar perangkat penting dalam wahana ini tak membeku. Perangkat tersebut akan bekerja dengan energi yang diperoleh lewat panel surya seberat 3 ton yang dimiliki wahana ini.

Berdasarkan press release ESA, masa hibernasi akan berakhir 20 Januari 2014 atau 31 bulan kemudian. Saat itu, wahana ini diharapkan telah mendekati target berikutnya, komet 67/P Churyumov-Gerasimenko yang berjarak 675 juta kilometer dari Bumi.

Pada tanggal tersebut, wake up call akan dikirimkan ke Rosetta. Selama beberapa minggu kemudian, pengendali misi di Bumi akan melakukan program pemanasan dan pengaktifan kembali sehingga Rosetta siap menjemput komet impiannya pada Juli 2014.

"Dengan 'kunjungan' ke asteroid Steins tahun 2008 dan Lutetia tahun 2010, Rosetta telah menghasilkan penemuan ilmiah yang mengagumkan," kata Ferri, seperti dikutip Dailymail. Ke depan, Rosetta diharapkan menghasilkan penemuan lebih memukau.

Energi Gelap Bikin Semesta Mengembang

Survei selama lima tahun pada 200.000 galaksi membuktikan bahwa energi gelap terbukti membuat semesta mengembang dengan percepatan tertentu. Penemuan itu didasarkan pada observasi menggunakan wahana Galaxy Evolution Explorer NASA dan Anglo Australian Telescope di Siding Spring Mountain, Australia.

Awalnya, astronom menggunakan peta galaksi 3D hasil pencitraan Galaxy Evolution Explorer. Selanjutnya, dengan Anglo Australian Telescope, astronom mencari pola jarak antargalaksi, jarak galaksi dengan Bumi, dan kecepatan galaksi menjauh dari Bumi. Dengan peta galaksi, astronom juga mempelajari bagaimana kluster galaksi berkembang.

Berdasarkan analisis, jarak antargalaksi pada permulaan semesta sekitar 500 juta tahun cahaya. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa jarak antargalaksi tersebut semakin menjauh. Gravitasi pada kluster galaksi menarik galaksi-galaksi baru, tetapi energi gelap seolah justru mendorongnya keluar.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa energi gelap adalah konstan secara kosmologis. Chris Blake, pimpinan investigasi dari Swinburne University of Technology, Melbourne, mengatakan, "Aksi energi gelap seperti ketika Anda melempar bola ke udara dan menjaganya tetap bergerak semakin cepat ke atas."

Penemuan ini mendukung teori bahwa energi gelap bertindak sebagai gaya konstan yang secara tetap memengaruhi semesta, membuatnya mengembang. Sekaligus, hasil ini membantah teori alternatif bahwa penyebab mengembangnya semesta adalah gravitasi yang bertindak sebagai gaya dorong ketika jarak antarbenda jauh.

Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Royal Astronomy Society. Energi gelap sendiri adalah bentuk energi yang mendominasi semesta, terdiri atas sekitar 74 persen. Materi gelap yang sampai saat ini masih misterius berjumlah 22 persen di semesta. Sementara materi "normal" yang kita kenal, seperti yang menyusun makhluk hidup, hanya 4 persen.

refrensi ; http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-1389206/Dark-energy-DOES-exist-increasingly-driving-universe-apart-scientists-claim.html

Planet Kerdil yang Diselimuti Es

Haumea, planet kerdil berbentuk aneh, dan setidaknya salah satu dari dua bulan yang ia miliki diperkirakan mengandung es.

Dengan ukuran lebar seluas 1.960 kilometer, planet berbentuk lonjong ini merupakan planet kerdil kelima yang teridentifikasi milik Matahari kita. Planet berjarak 35 kali lebih jauh dibanding jarak Matahari dengan Bumi ini memiliki bobot sepertiga massa Pluto.

Haumea, planet lonjong berlapis es
Sama-sama mengitari Matahari, orbit planet ini berada di sekitar sabuk Kuiper, tepat di belakang Pluto. Bentuknya yang lonjong kemungkinan diakibatkan oleh periode rotasinya yang sangat cepat yakni 3,9 jam saja.

Ia pertamakali ditemukan pada tahun 2003 lalu oleh sekelompok astronom Amerika Serikat di Cerro Tololo Inter-American Observatory. Awalnya ia diberi nama 2003 EL61, sebelum diganti menjadi Haumea, nama seorang dewi penduduk Hawaii yang melambangkan kesuburan.

Tidak seperti benda lain di sabuk Kuiper, Haumea tidak terdiri dari campuran es dan batu dalam jumlah yang imbang, melainkan kerak es yang menyelimuti interior yang berbatu. Berikut video: Planet Kerdil yang Diselimuti Es.


sumber

10 Planet Musafir Ditemukan

Astronom berhasil menemukan 10 planet "musafir" di galaksi Bimasakti, arah gugusan bintang Sagitarius. Layaknya musafir, planet itu berjalan dalam kesendirian, tanpa planet lain dan tanpa bintang sebagai induknya, mengambang bebas. Menurut ilmuwan, massa dan komposisi 10 planet tersebut ekuivalen dengan Jupiter dan Saturnus, terutama terdiri dari helium dan hidrogen.

Daniel Bennet, astronom dari University of Notre Dame yang terlibat penelitian ini, mengatakan, "Kami memperkirakan planet-planet itu terbentuk di sekitar bintang dan selanjutnya, dalam tahap lanjut formasinya, mereka terlontar keluar, terutama akibat interaksi dengan planet lain."

Berdasarkan penemuan terakhir, diperkirakan ada banyak planet mengambang bebas di angkasa, tanpa bintang yang berjarak kurang dari 10 kali jarak Bumi-Matahari. Menurut estimasi Bennet, total planet mengambang bebas adalah 1,8 kali lebih banyak dari jumlah bintang. "Ini sedikit lebih besar dari yang orang perkirakan," kata Bennet. Banyak planet mengambang bebas yang tidak terlihat.

Mengungkapkan proses penemuan planet-planet itu, Bennet mengatakan, "Survei kami seperti sensus populasi. Kami mengambil sampel di galaksi dan berdasarkan data itu kami bisa memperkirakan jumlah total (planet musafir) di galaksi." Menurut dia, survei ini hanya sensitif dengan planet berukuran sebesar Jupiter. Namun, diperkirakan planet yang lebih kecil seperti sebesar Bumi lebih mudah terpental dari dekat bintangnya.

Bennet mengungkapkan, planet mengambang bebas sebesar Bumi berpotensi mendukung kehidupan. "Ada beberapa paper yang mengatakan bahwa planet mengambang bebas sebesar Bumi memiliki temperatur yang mendukung kehidupan. Alasannya adalah bila mereka tak dekat dengan bintangnya, maka tak punya mekanisme menghilangkan atom hidrogen dari atmosfer, itu bisa menjadi gas rumah kaca yang efektif," urai Bennet.

Gas rumah kaca yang efektif sangat menentukan kemampuan planet mengambang bebas sebesar Bumi dalam mendukung kehidupan. Seperti Bumi, planet itu memang memiliki material radioaktif yang penguraiannya bisa menghasilkan panas. Namun, panas yang dihasilkan 10.000 kali lebih kecil dari panas Matahari sehingga gas rumah kaca diperlukan untuk menjaga agar temperatur planet itu tetap tinggi.

Di luar mampu tidaknya planet tersebut mendukung kehidupan, penemuan planet mengambang bebas ini bisa membantu ilmuwan untuk memahami proses pembentukan dan evolusi sistem keplanetan. Salah satu pandangan yang berkembang mengatakan, sistem keplanetan sering tidak stabil dan ada beberapa planet yang kemudian terlontar keluar dari sistemnya. Penemuan 10 planet mengambang bebas ini bisa mendukung pandangan itu.

Dalam observasi yang berakhir pada penemuan 10 planet mengambang bebas ini, Bennet dan timnya menganalisis data dari observasi di wilayah gembungan Bimasakti. Data direkam menggunakan teleskop Microlensing Observation in Astrophysics selebar 1,8 meter di Selandia Baru. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Nature yang terbit Rabu (18/5/2011) minggu lalu.

Loading..

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More