AlgoritmaNews Adalah Situs Berita Perkembangan Teknologi Terkini Yang Ter Update Setiap Hari | Mulai Dari Berita Teknoligi, Sains, Perbintangan, NASA, Satelit, Tips Trik Mengatasi Masalah Yang Terjadi Pada Prangkat Teknologi dan Masih Banyak Info Menarik Lainya.
Promo Web Hosting 500mb Bw Unlimited Cuma Rp.50rb Untuk 10 Pendaftar Pertama Order disini

Showing posts with label Binatang. Show all posts
Showing posts with label Binatang. Show all posts

Hewan Menakutkan Berwujud Alien

Seekor hewan yang tidak memiliki bulu pada kepalanya, bermata besar layaknya monyet membuat warga Henan panik dan ketakutan karena mengira hewan tersebut alien.

Seorang ibu Rumah Tangga, Xiping Mao menyalakan alarm tanda bahaya di rumahnya setelah menemukan makhluk yang terlihat kurus dan seperti kekurangan gizi ini mencuri ketimun dari flatnya.

"Saya menemukan hewan berwajah alien yang menakutkan dan saya belum melihat hewan jenis ini sebelumnya,"ujar Mao kepada polisi, seperti dikutip Straits Times.

Polisi setempat sempat tak percaya dengan apa yang disampaikan Mao. Sampai akhirnya hewan tersebut terperangkap di sebuah keranjang cuci piring.

Setelah polisi datang, Mao langsung membawa salah seorang polisi untuk melihat keberadaan hewan tersebut. Akhirnya mereka memutuskan untuk membawanya ke kantor polisi.

Saat ini hewan berukuran 46 cm itu masih diperiksa dan didentifikasi ilmuwan setempat.

"Hewan itu terlihat sangat kurus sehingga tulang rusuk dengan mudah dilihat melalui dagingnya,"ungkap peneliti di Provinsi Henan, China tengah.

10 Binatang Aneh Yang Hidup Di Antartika


Sebuah survey di lakukan secara besar-besaran di Antartika (Kutub Selatan) oleh ilmuwan dari penjuru dunia. Pemegang kunci peranan dalam ekspedisi ini adalah National Institute of Water and Atmospheric Research dari Selandia Baru. Mereka dan para ilmuwan lainnya mengkolesi sekitar 30.000 binatang laut (banyak diantaranya baru bagi ilmu pengetahuan) selama penelitian sekitar 35 hati di perairan Antartika di bulan Februari dan Maret. Dari beberapa binatang unik dan belum diketahui berikut adalah 10 diantaranya.
Sejenis bintang-laut kecil pada kedalaman sekitar 492 feet (150 meter).


Ikan bergigi pisau dan bermata biru safir.


Sejenis Crustacean yang mirip udang ditemukan pada kedalaman 985 feet.


Sejenis babi-laut, temannya timun-laut, bekicot-laut.


Ini ikan predator yang memiliki lampu dan sungut, sayang memiliki kulit yang lembut dan terluka jaring sewaktu di tangkap.


Makhluk yang aneh dengan ukuran 2.5 inch dan panjang mencapai 39 inch.


Ini dia bintang laut dengan ukuran 24 inch


Binatang ini panjangnya 19 inch melayang 7218 feet dibawah permukaan air.


Warnanya oranye menyala dengan ukuran 9,8 inch

Species gurita ke-18 yang ditemukan pada kedalaman 3280 feet.

Kepiting Raksasa Ditemukan di Kosta Rika

Seekor spesies kepiting besar ditemukan oleh ilmuwan di pulau Cocos Island, Kosta Rika, ungkap laporan di sebuah koran lokal.

Seperti yang dikutip dari AFP, para peneliti dari Kosta Rika dan Amerika Serikat (AS) menemukan spesies baru kepiting besar bernama 'Johngarthia Cocoensis' di pulau Cocos Island. Deskripsi Johngarthia Cocoensis menurut para ilmuwan berukuran 40 cm untuk jantan, sementara betinanya berukuran lebih kecil.

Kepiting jenis tersebut hidup di lubang yang mereka gali dan memakan rumput dan biji-bijian. Robert Perger dan Rita Vargas dari University of Costa Rica serta Adam Wall dari Los Angeles County Natural History Museum disebut sebagai penemu dari spesies baru tersebut.

Perger berkata bahwa Johngarthia Cocoensis mirip dengan kepiting jenis J.Malpilensis, yang hidup di pulau-pulau di sekitar Cocos Island..

"Kemiripan Johngarthia Cocoensis dengan spesies jenis lainnya di Pasifik barat, mengindikasikan bahwa larva mereka mungkin telah terbawa ke pulau Cocos Island, yang kemudian beradaptasi dengan habitat baru hingga menjadikannya sebuah spesies baru," jelas Perger.

Pulau Cocos Island berlokasi di Kolombia yang berdekatan dengan batas wilayah perairan Kosta Rika. Selain itu, Cocos Island juga merupakan satu-satunya pulau di pasifik barat yang memiliki hutan tropis yang lembab dan banyak spesies hewan.

Rahasia Bernapas Laba-laba Air

Laba-laba genta penyelam (Argyroneta aquatica) atau laba-laba air yang hidup di kolam dan sungai berarus lambat hanya perlu mengambil udara ke permukaan air sekali sehari. Kesimpulan para ilmuwan peneliti laba-laba Eropa itu dimuat di Journal of Experimental Biology.

Para peneliti mengukur kadar oksigen di dalam dan di sekitar jaring gelembung udara yang menyungkup kepala hewan yang hidup di air itu. Mereka menemukan, gelembung itu berfungsi seperti insang, menyaring oksigen dari air dan mengeluarkan karbon dioksida.

Laba-laba yang hidup di Eropa dan Asia utara ini membuat jaring dengan rambut halus dari perutnya. Untuk mengetahui berapa kali laba-laba mengambil udara, ahli invertebrata, Prof Roger Seymour dan Dr Stefan Hetz, mengumpulkan contoh laba-laba dari Sungai Eider, Jerman. Mereka membangun tiruan habitat laba-laba di laboratorium.

Ternyata dengan mengukur perbedaan kadar oksigen dalam gelembung dan lingkungan air, peneliti mendapatkan pertukaran gas seperti halnya insang pada hewan yang bernapas dalam air.

"Saat laba-laba menghirup oksigen dalam gelembung, kadar oksigen menurun sehingga oksigen dari air masuk ke dalam gelembung," kata Seymour sebagaimana dikutip BBC,

Kulit Katak Kandung Zat Pembunuh Tumor

Peneliti dari Universitas Queens, Belfast, Irlandia Utara, menemukan dua jenis protein di kulit katak, yang berpotensi sebagai obat penyembuh kanker.

"Dua jenis protein yang dapat menghambat pertumbuhan pembuluh darah sekaligus digunakan untuk membunuh sel tumor," ujar Chris Shaw, pemimpin tim penelitian, kepada BBC News.

Menurut Shaw, kebanyakan sel tumor hanya dapat tumbuh sampai ukuran tertentu sebelum sel itu memerlukan pembuluh darah untuk tumbuh ke dalam tumor guna menyalurkan zat makanan dan zat oksigen yang amat penting.

Dalam penelitian, para ilmuwan menangkapi katak-katak dan mengambil protein hasil sekresi pada kulit, kemudian melepaskannya kembali ke alam bebas. Shaw sendiri menyatakan, ia yakin akan alam punya solusi atas berbagai penyakit yang dihadapi manusia, "Tinggal bagaimana menemukannya."

Penelitian tersebut memperoleh penghargaan untuk penemuan medis dalam Medical Futures Innovation Awards di London baru-baru ini.

penemuan, Cicada yang Suka Tertawa

Sebanyak 75 spesies terbaru ditemukan dalam ekspedisi ilmiah ke kepulauan dan laut wilayah Filipina. Di antaranya sejenis serangga seperti belalang atau cicada yang suaranya mirip orang tertawa dan ikan hiu berpunggung coklat sehingga dijuluki hiu kucing.

Hasil riset peneliti California Institute of Science dan peneliti Filipina ini disampaikan kepada media massa. Richard Mooi, salah satu ilmuwan dari California yang terlibat penelitian ini, mengatakan bahwa timnya menemukan ragam spesies bintang laut, landak laut, belut, dan barnacles (sejenis teritip) yang diyakini belum pernah dilihat ilmuwan sebelumnya.

"Kami menemukan setidaknya 75 spesies baru. Mungkin lebih. Analisis lanjut dibutuhkan. Namun yang tak perlu dipertanyakan lagi, kami menemukan 20 spesies bintang laut dan landak laut," urai Mooi.

John McCosker, peneliti lain yang juga terlibat, mengatakan bahwa ilmuwan juga menemukan "hiu kucing" berukuran 60 cm dan memakan udang. Punggung hiu itu berwarna coklat dengan garis gelap dan bagian perut berwarna putih.

Mengungkapkan temuan lain, Terry Gosliner, dekan California Academy, mengatakan, "Kami menemukan spesies belut baru, spesies pipe fish yang mungkin baru, serta spesies barnacles dan nudibranch (keluarga siput) baru."

Penemuan yang paling tak biasa diperoleh pakar serangga Filipina, Irene Lit. Ia menemukan beberapa spesies serangga, termasuk cicada yang menghasilkan suara mirip orang tertawa terbahak-bahak. "Penduduk lokal takut terhadapnya. Mereka pikir itu suara kurcaci yang sedang tertawa," katanya.

Lit menemukan spesies itu di Gunung Banahaw, gunung setinggi 2.158 meter di Pulau Luzon. Lit yang menjadi direktur museum di Universitas Filipina mengatakan, ia akan mengontak Paris Museum of Natural History di Perancis untuk mengonfirmasi bahwa cicada itu merupakan spesies baru.

Langkah yang sama juga ditempuh untuk membuktikan kebaruan spesies lain, meski beberapa pakar menyatakan bahwa mereka sudah bisa memastikan, spesies-spesies tertentu memang spesies baru.

Egardo Gomez, Profesor Marine Science Institute Universitas Filipina, mengatakan, beberapa spesies mungkin berada dalam tekanan. Penyebabnya adalah polusi, penangkapan yang berlebihan, dan perubahan iklim.

Spesies Baru Kelelawar dari Sulawesi

Spesies kelelawar baru ditemukan di wilayah Sulawesi. Spesies tersebut ditemukan oleh Dr. Ibnu Maryanto bersama timnya dalam ketika melakukan penelitian dari wilayah utara hingga selatan Sulawesi. Nama spesies itu adalah Thoopterus suhaeniahi.

"Saya temukan sudah tahun lalu. Nanti Juni akan dipublikasikan di jurnal di Australia," ungkap Ibnu di sela Konferensi Internasional Kelelawar Asia Tenggara yang berlangsung di Bogor.

Ibnu mengatakan, kelelawar spesies tersebut memiliki beberapa ciri yang khas. "Tubuhnya berwarna abu-abu gelap dan berperan dalam penyerbukan kayu besi. Kelelawar ini tidak memiliki lubang yang disebut postorbital foramen," urainya.

Menurut Ibnu, identifikasi spesies tersebut hanya dilakukan dengan pengamatan morfologis. Ia membantah bahwa penemuan spesies baru harus dilakukan dengan analisa molekuler. "Kalau sudah kelihatan berbeda ya itu spesies baru," jelasnya.

Sebelum menemukan spesies ini, Ibnu yang telah meneliti kelelawar sejak tahun 1985 juga telah menemukan beberapa spesies lainnya. Menurutnya, Indonesia saat ini memiliki 225 spesies kelelawar yang totalnya mencapai 11 persen spesies yang ada di dunia.

Ibnu mengungkapkan, "Kalau eksplorasi, kita masih bisa menemukan 10 spesies kelelawar per tahun." Menurutnya, hal itu karena lingkungan Indonesia sangat beragam. "Irian, Sulawesi dan wilayah lainnya itu sangat berbeda," paparnya.

Penemuan spesies baru ini pantas disambut gembira maupun dengan keprihatinan. Pasalnya, menurut Ibnu, spesies yang ditemukan ada, tapi juga banyak spesies yang hilang. Tekanan akibat perusakan habitat kelelawar adalah pemicu hilangnya kelelawar jenis tertentu.

Menurut Ibnu, perlindungan terhadap kelelawar harus dilakukan, salah satunya dengan melindungi kawasan karst. Ibnu mengungkapkan, kelelawar adalah spesies kunci yang berperan dalam keseimbangan ekosistem. Jika kelelawar tak ada, produksi buah bisa terganggu karena tak ada yang menyerbuki dan malaria bisa mewabah akibat kurangnya kontrol terhadap populasi serangga seperti nyamuk.

Cacing Baru Hidup di Kedalaman 900 Meter

Tullis Onstott, ilmuwan dari Princeton University, bersama rekannya dari Afrika Selatan, Belgia, dan Belanda menemukan spesies cacing baru yang disebut Halicephalobus mephisto. Ilmuwan menemukan cacing ini hidup di kedalaman 900-3.600 meter di lapisan air bawah tanah pada sebuah lokasi penambangan emas di Afrika Selatan.

Onstott mengaku terkejut dan tak menyangka menemukan cacing di kedalaman tersebut. "Menakutkan setengah mati ketika pertama kali melihat cacing itu bergerak. Cacing itu terlihat seperti benda hitam kecil yang bergerak berputar-putar," ungkap Onstott seperti dikutip Dailymail.

Sebelumnya, banyak ilmuwan mengira bahwa hanya mikroorganisme yang mampu hidup pada kedalaman tersebut. Sebabnya, oksigen dan nutrisi yang terbatas serta temperatur yang ekstrem. Namun, dengan penemuan ini, Onstott membuktikan bahwa organisme multiselular pun bisa hidup di lingkungan itu.

Dalam publikasinya di jurnal Nature, Rabu (1/6/11), Onstott menguraikan bahwa Halicephalobus mephisto masuk dalam filum Nematoda. Ia memiliki ukuran kecil, sekitar 0,55 mm serta bisa menoleransi temperatur hingga lebih dari 48 derajat celsius. Cara bereproduksi ialah secara aseksual (tanpa kawin) dan memilih makanan bakteri di bawah permukaan tanah.

Analisa karbon menunjukkan bahwa air pada lapisan tempat spesies cacing itu ditemukan berusia 3.000-12.000 tahun. Dipercaya bahwa spesies cacing itu mulanya hidup di permukaan, namun dibawa ke lapisan bawah oleh air hujan masa lalu. Cacing ini mirip dengan cacing yang membusukkan buah dan mungkin memiliki kekerabatan dengannya.

Penemuan ini bisa menunjukkan bahwa lingkungan bawah tanah ternyata lebih kompleks dari yang diduga. Penemuan makhluk multiselular ini juga memberi implikasi penting bagi pencarian makhluk hidup bawah tanah di planet lain di Tata Surya. Selain menemukan Halicephalobus mephisto, Onstott dan rekannya juga menemukan cacing lain, di antaranya Plectus aquatilis.

Hooded Pitohui, Satu-satunya Burung Beracun di Dunia

[Image: 165hoodedpitohui.jpg]

Ternyata ada juga burung beracun di Bumi ini, konon katanya burung beracun ini hanya ada satu jenis yang bernama Hooded Pitohui.

Burung Hooded Pitohui ditemukan di Papua Nugini, pertahanan mereka terhadap pemangsa yang walaupun sederhana tapi menakjubkan adalah mereka beracun. Pitohui memakan beberapa jenis kumbang yang mengandung neurotoxin kuat dan mengandung alkaloid yang dikenal sebagai batrachotoxin (racun yang juga ditemukan pada kulit dari racun katak panah Amerika Selatan).

Dengan makan kumbang, burung-burung menjadi beracun, toksin mereka terdapat pada bulu mereka sendiri dan kulit. Mereka benar-benar dikenal oleh penduduk setempat sebagai “burung sampah”, karena toksisitasnya membuat tidak mungkin untuk dimakan kecuali kulit dan bulu mereka dicabut.

Menyentuh Hooded Pitohui dapat menyebabkan mati rasa dan kesemutan, kulit terbakar dan bersin (seperti yang dilaporkan oleh para ilmuwan yang menangani makhluk itu), sedangkan memakan mereka mungkin akan jauh lebih berbahaya. Untuk memperingatkan sifat toksisitasnya, burung ini memiliki warna terang oranye dan warna hitam yang memungkinkan calon predator untuk mengenalinya. Dan diyakini bahwa Hooded Pitohuis dapat menggosok toksin pada telur dan anaknya untuk melindungi mereka dari predator.
Menurut XiMAD… Hooded Pitohui adalah satu-satunya burung di dunia yang memiliki racun.

[Image: 541jackd4.jpg]

[Image: 934hooded_pitohui_0360s.jpg]

Udang Raksasa Panjangnya 1 Meter

Fosil predator yang mirip udang dengan panjang 1 meter ditemukan di sebelah tenggara Maroko. Hewan tersebut memiliki ukuran terbesar di jenisnya dan diperkirakan mendominasi laut pada zaman pra-dinosaurus selama jutaan tahun.

Hewan yang disebut Anomalocaridid itu mirip seperti udang dan sotong. Salah satu bagian di kepalanya menonjol dan melingkar. Mulut mereka berlapis serta membuka dan menutup seperti diafragma kamera.

Anomalocaridid terbesar sebelum temuan ini berukuran 0,6 meter. Ukuran yang seperti itu saja sudah membuatnya hewan terbesar dalam periode Cambria (542 hingga 501 juta tahun yang lalu), saat invertebrata banyak berevolusi menjadi berbagai hal.

Selain ukuran, hal lain yang mengejutkan dari penemuan ini adalah usia fosil yang terbilang muda, diperkirakan berumur 488 hingga 472 tahun yang lalu. "Hewan ini ternyata bertahan hidup 30 tahun lebih lama dari yang diperkirakan," kata Derek Briggs, Direktur Yale Peabody Museum, yang turut serta pada studi.

Anomalocaridid menyebar luas pada saat periode Cambria, tetapi mulai tidak ditemukan pada era 510 juta tahun yang lalu. "Apa mereka punah atau kita mencari di tempat yang salah?" kata Briggs belum bisa menjawab misterinya. Ternyata, jaringan lembut rusak sebelum terbentuk fosil. Khusus untuk fosil yang ditemukan di Maroko ini, ilmuwan beruntung karena endapan di sekitarnya membuat hewan terawetkan.

Anomalocaridid akhirnya memang punah dan tidak menghasilkan keturunan modern. "Digantikan ikan dan predator laut lain," kata Briggs menjelaskan.

Mengerikan! Kumbang Ini Memangsa Katak Hidup-hidup (Foto dan Video)

Kumbang, pada umumnya memakan daun, buah, serangga kecil atau sejenisnya. Seramnya, kumbang ini memakan katak dan kadal.

Kumbang Epomismen jadi predator bagi katak dan kadal yang notabene ukurannya jauh lebih besar. Menurut ilmuwan Tel Aviv University di Israel, kumbang biasanya memakan hewan kecil seperti serangga, cacing atau hewan bertulang punggung mati.

Namun, menurut peneliti Gil Wizen, ketika ada ‘kerabat’ kumbang ini dimangsa kadal atau katak, kumbang ini akan membalas dendam dengan menyerang dan memangsa katak atau kadal itu.

Kumbang ini termasuk fenomena luar biasa hewan tak bertulang punggung yang memangsa hewan bertulang punggung, lanjutnya. Kumbang Epomis tak serta merta menyerang mangsanya.

Foto Kumpulan Ular Berkepala Dua di Seluruh Dunia

Tidak seperti biasanya jika ular normal kemunculannya merupakan hal biasa bagi orang, tapi kemunculan si kepala dua ini bisa bikin orang stress, tapi sebenarnya sosoknya cukup memikat hati. Sesungguhnya ular berkepala dua merupakan hewan kembar siam, yang menempel satu sama lain melalui organ-organ atau bagian tubuh mereka. Ini artinya mereka nempel dengan saling berbagi organ, salah satu kepalanya merupakan parasit bagi lainnya.





Lahirnya kembar siam seperti ini terjadi saat pembelahan embrio pada proses pembentukan menjadi kembar identik, entah untuk suatu alasan tertentu sebelum kelahirannya pembelahan tersebut tidak selesai. Titik dimana embrio berhenti membelah bervariasi sehingga ular-ular ini bisa nyambung di mana saja di bagian tubuhnya. Studi pada ular-ular ini menunjukkan bahwa hampir seluruh ular berkepala dua mengalami kesulitan dalam lingkungannya.



Meski ular berkepala dua ini harus saling berbagi bagian tubuh, kedua kepalanya tidak begitu saling "memahami" satu sama lain sehingga menganggap segala sesuatunya secara individual. Jadi seringkali mereka berada pada situasi dimana mereka harus bertarung saat menemukan makanan. Karena kepala mereka berbagi satu tubuh dimana juga berbagi organ yang sama, saat kepala yang satu makan, maka kepala yang lainnya akan juga merasa kenyang. Mungkin ini yang tidak dipahami kepala yang tidak makan saat merasa kenyang juga sementara dia tidak melakukan apa-apa.




Satu masalah lagi selain saat makan, yaitu saat menentukan kemana arah harus berjalan. Karena mereka memiliki masing-masing otak yang mungkin saja menerima informasi yang berbeda sehingga yang terjadi salah satu kepala akan selalu dominan menarik kepala yang lainnya pada arah yang lain.



Situasi bertambah rumit saat mereka menghadapi serangan musuh. Salah satu dari dua kepala itu mungkin menghendaki melawan musuh sementara satunya lagi menghendaki menghindari musuh secepatnya sehingga mereka sering kehilangan waktu pada saat-saat yang kritis. Hal ini turut membuat peluang hidup mereka di alam liar menjadi kecil.


Jika beruntung, ular berkepala dua bisa mencapai usia hingga dua puluh tahun atau lebih dengan kepala sebelah kanan biasanya menjadi lebih dominan dalam pengambilan keputusan, entah saat harus ke arah mana berjalan hingga mangsa apa yang akan dijadikan makanan.




sumber

Persahabatan Burung Hantu dan Kucing Hitam : Video

Kumbang Memangsa Amfibi Hidup

Jika kumbang dan serangga biasa menjadi mangsa hewan-hewan amfibi, tidak demikian halnya dengan kumbang Epomis. Kumbang ini justru balik menjadi predator bagi amfibi yang memiliki ukuran jauh lebih besar dari mereka.

Demikian ungkap sejumlah ilmuwan dari Tel Aviv University di Israel usai melakukan penelitian terhadap kumbang Epomis.

Sebenarnya, kumbang Epomis biasa mengkonsumsi hewan-hewan kecil seperti serangga, cacing maupun hewan vertebrata yang sudah mati. Namun ketika ditempatkan bersama dengan amfibi hidup, mereka akan menyerang dan memangsa hewan tersebut.

“Amfibi biasanya menjadi predator serangga. Mereka juga gemar memangsa kumbang dewasa,” jelas salah seorang peneliti Gil Wizen sebagaimana dilansir MSNBC

“Video dokumentasi kumbang Epomis yang menyerang beberapa ekor katak belum lama ini memberikan masukan baru terkait interaksi amfibi dan serangga. Selain itu, video ini juga mendokumentasikan fenomena luar biasa dari hewan invertebrate yang memangsa hewan vertebrata,” papar Wizen.

Kumbang Epomis tidak begitu saja menyerang mangsanya. Peneliti menemukan bahwa kumbang Epomis senang ‘mengakrabkan’ diri dengan mangsanya di siang hari, sebelum akhirnya menyerang mereka di malam hari. Kumbang Epomis bisa memakan segala jenis amfibi, mulai dari katak, kadal air hingga salamander.

Ketika menyerang, kumbang Epomis akan menggigit bagian punggung amfibi dan menusuk mangsanya sehingga mereka lumpuh. Saat itulah kumbang Epomis memakan amfibi secara perlahan. Biasanya, mereka membutuhkan waktu beberapa jam untuk menghabiskan mangsanya.

Seorang Professor Merekam Suara Unik yang Dihasilkan Semut

Profesor Robert Hickling sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk meneliti serangga dan merekam getaran-getaran bunyi yang mereka lepaskan. Namun, bahan-bahan yang diperoleh tidak bisa dinyatakan hingga ia mampu merekam bunyi-bunyi yang berasal dari semut.

Ia bermaksud meneliti semut di sarangnya. Mereka tidak menemukan metoda yang lebih baik daripada mengikuti bunyi-bunyi semut.

Bagaimanapun, hal yang mengejutkan ilmuwan itu adalah bahwa frekwensi bunyi-bunyi yang dilepaskan semut-semut itu bervariasi dari satu semut dengan semut lain, dan dari jenis semut yang satu dengan jenis semut yang lain.

Ada 12.000 spesies dalam dunia semut di muka bumi, melebihi ras manusia. Di hadapan jumlah yang luar biasa ini para peneliti bingung mengenai bagaimana mereka mencocokkan semua bunyi tersebut.

Beraneka bunyi semut bisa direkam dengan sukses, dan bagian-bagian dari riset ini diterbitkan di majalah Journal of Sound and Vibration tahun 2006, dan itu adalah pertama kali manusia dapat mendengar suara semut yang sebenarnya!

Peneliti ini menerbitkan banyak riset dan yang paling penting adalah tentang komunikasi antar semut di Journal of Acoustical Society of Amarican Magazine.

Peneliti-peneliti ini menunjukkan bahwa semut-semut melebihi kita dalam komunikasi akustik. Para ilmuwan mengharapkan bahwa semut menggunakan antena-antena untuk mengirim dan menerima getaran suara. Semut memperkuat isyarat-isyarat suara yang diterima seperti pada alat-alat penerima yang canggih.

Lebih dari itu, semut-semut itu bisa menghilangkan bunyi-bunyi yang melebihi batas, sehingga hal tersebut menjadi filtrasi atau klarifikasi terhadap bunyi untuk mencirikannya dari yang lain.

Ini merupakan sistem komunikasi yang sangat maju, yang selama ini tidak dikenal para ilmuwan, dan mereka baru menemukannya beberapa tahun yang lalu.

Para ilmuwan berusaha untuk menangkap isyarat-isyarat akustik yang diucapkan semut-semut. Mereka membedakan empat macam bunyi setelah melakukan pengamatan selama bertahun-tahun


Semut menggunakan sinyal akustik tertentu yang dilepaskanya saat marah. Seekor semut memberi peringatan, lalu ia mengeluarkan panggilan yang bisa diterima, dipahami, dan direspon kawannya dengan segera. Untuk mendengarkan suara semut yang sedang memberi peringatan kepada kawannya, silakan dengarkan di sini.

Para ilmuwan menyatakan bahwa semut-semut itu seperti kita, mereka melaksanakan tugas-tugas mereka secara efisien. Sambil kerja, semut-semut berbicara satu sama lain dan berkata seperti manusia.

Kita menemukan bahwa semut-semut mengorganisir proses pengumpulan makanan dan tugas-tugas lain melalui bunyi-bunyi tertentu dan berbagai perintah yang dilepaskannya, sementara semut-semut lain mendengar dan merespon!


Ini adalah suara semut dalam keadaan normal dan saat bekerja, memindahkan sesuatu, dan mengumpulkan makanan. Silakan dengarkan di sini.

Ketika semut menyerang seekor ulat, maka ia mengeluarkan suara yang menakutkan. Suara-suara tersebut benar-benar tidak bisa dipahami, dan mereka melakukan pertemuan seperti manusia. Dengarkan suara seekor semut saat menyerang seekor ulat di sini.


Phil De Vries menemukan bahwa serangga melepaskan getaran-getaran suara lemah yang dapat dibedakan oleh semut.

Kumbang penghisap mengeluarkan zat yang mengandung gula yang disukai semut. Serangga ini mengeluarkan getaran selama ia bekerja, sehingga semut sering kali terjebak sebagai mangsanya. Getaran-getaran akustik itu merupakan alat komunikasi di antara serangga.

Robert Hickling, salah seorang peneliti terkemuka mengatakan,
"Semut-semut tidak bereaksi terhadap suara manusia dan tidak terpengaruh olehnya. Tetapi jika kita mengarahkan kepadanya getaran-getaran yang sesuai, maka semut terpengaruh olehnya dan meresponnya. Ini berarti bahwa semut-semut mempunyai bahasa sendiri dan mereka sepenuhnya seperti manusia."

sumber

Kaos Dengan Sablon Wajah Hewan 3 Dimensi

Produk Kaos dari themountain ini sangatlah keren dan unik, gimana ga keren? Tampilan sablon dari Kaos ini terlihat sangat nyata, 3D ! Menampilkan hewan-hewan buas dari afrika membuat tampilan Kaos tersebut sangatlah ‘Sangar’, dijual dengan harga $20 tentu sangatlah sesuai dengan apa yang akan kita dapatkan, anda berminat?Atau ingin menciptakan kaos yang Lebih 3D setelah melihat tampilan dari kaos-kaos ini ?

Animals faces T shirt

Animals faces T shirt

Animals faces T shirt



Loading..

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More