AlgoritmaNews Adalah Situs Berita Perkembangan Teknologi Terkini Yang Ter Update Setiap Hari | Mulai Dari Berita Teknoligi, Sains, Perbintangan, NASA, Satelit, Tips Trik Mengatasi Masalah Yang Terjadi Pada Prangkat Teknologi dan Masih Banyak Info Menarik Lainya.
Promo Web Hosting 500mb Bw Unlimited Cuma Rp.50rb Untuk 10 Pendaftar Pertama Order disini

Showing posts with label Ikan. Show all posts
Showing posts with label Ikan. Show all posts

Tangkapan Ikan Sidat Mulai Menurun

Hasil tangkapan ikan sidat sudah mulai menurun. Dr Hagi Yuli Sugeha, peneliti Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkapkannya dalam wawancara usai presentasi hasil penelitian ikan sidat di Widya Graha LIPI, Jakarta.
"Belakangan sudah mulai menurun hasil tangkapannya. Ukuran yang ditangkap juga sudah kecil-kecil," katanya. Menurutnya, penyebabnya adalah pola penangkapan memakai jebakan permanen sehingga tak satu pun ikan sidat yang bisa lolos dari jebakan.
Hagi juga mengungkapkan bahwa banyak nelayan masih menangkap juvenile sidat di muara sungai. "Di Danau Poso juga banyak yang menangkap sidat yang akan bertelur," kata Hagi. Hal ini adalah salah satu faktor yang membuat populasi ikan sidat bisa menyusut.
Menurut Hagi, sebenarnya ukuran konsumsi ikan sidat adalah 50 cm. Namun, ikan sidat dewasa biasanya sulit ditangkap. Hal ini mendorong masyarakat untuk tetap menangkap juvenile. Sementara, penangkapan ikan yang akan bertelur tetap dilakukan sebab telurnya pun bisa dimanfaatkan.
"Bagian tubuh ikan sidat itu semuanya bisa dimanfaatkan. Telurnya bisa untuk bikin caviar, lalu juvenile-nya bisa untuk sashimi, dewasanya untuk sushi dan tulangnya juga bisa dibuat keripik di Jepang," ungkap Hagi.
Menurut Hagi, sebenarnya sudah ada peraturan pemerintah pada tahun 2009 yang melarang ekspor sidat, terutama juvenile. Tapi, kenyataannya hal itu masih berlanjut. "Ini DKP dan pemerintah daerah juga harus bekerjasama mengawasi di lapangan," saran Hagi.
Pada masyarakat, ia menganjurkan untuk menangkap berdasarkan musim serta perbaikan alat penangkapan. "Sebenarnya bisa menggunakan seser, itu semacam sekop. Kalau dengan trap seperti sekarang kan tidak ada yang bisa lolos. Apalagi trap-nya permanen," jelasnya.
Ia mengakui, memang sulit melakukan pengaturan sebab masyarakat pun mencari penghasilan. Namun, ke depan ia berupaya untuk mengembangkan artificial reproduction. "Tapi untuk ini kita masih perlu paham dulu tentang sidat tropis ini. Jadi masih perlu penelitian," urainya.
Ikan sidat adalah jenis ikan yang hidup di air tawar dan air laut. Ikan sidat biasa bereproduksi di laut sementara anakannya akan tumbuh di air tawar. Ikan ini merupakan salah satu komoditi penting sebab bisa diekspor dengan harga Rp 250 ribu per kilogram. Biasanya, jenis ikan ini diekspor ke China dan Jepang.

23 Ikan Zaman Purba yang Masih Hidup di Indonesia

Penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan lembaga penelitian Jepang berhasil menemukan 23 ekor ikan purba Coelacanth.

Coelacanth adalah jenis ikan purba yang hidup sejak jaman dinosaurus. "Ikan ini masih hidup sampai sekarang, dan hanya dapat ditemui di wilayah Afrika dan Indonesia," ujar Djoko Kunarso, peneliti senior, Pusat Oseanografi, LIPI di Jakarta.

Penelitian LIPI yang bekerjasama dengan Aquamarine Fukushima asal Jepang ini berhasil menemukan 23 ekor ikan Coelacanth. "Penemuan ikan-ikan tersebut beserta kurun waktunya berbeda," ungkap Djoko.

Djoko mengatakan bahwa ikan-ikan tersebut ditemukan dalam tiga kali survei, yang dilakukan di daerah Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Pantai Manado dan Biak.

"Dalam kerjasama ini pihak Jepang menyediakan peralatan, contohnya adalah kamera bawah laut," kata Djoko.

Ketika ditanya apa kendala yang menghambat penelitian, Djoko menjawab bahwa masalah perijinan lah yang sering terjadi.

Kerjasama penelitian antara LIPI dengan Jepang ini dimulai sejak tahun 2002. "Tidak seperti kerjasama lainnya antara LIPI dan Jepang yang berakhir pada tahun 2009, peneiltian kami ini masih terus berlangsung," kata Djoko.

Djoko mengatakan proyek penelitian ini masih dalam tahap mempelajari distribusi dan pola sebaran ikan Coelacanth di Indonesia.

"Bulan Agustus nanti proyek ini akan kembali dilakukan di wilayah Ambon dan Halmahera," jelas Djoko.

Dijelaskan pula oleh Djoko bahwa penelitian yang mereka lakukan adalah 'site test' yang berarti sampel penelitian tidak dibawa ke permukaan. "Karena ikan ini sudah masuk daftar hewan yang dilindungi oleh pemerintah," jawabnya.

Beberapa negara selain Jepang yang sudah bekerjasama dengan Indonesia untuk peneltitian ikan Coelacanth adalah Jerman dan Amerika.

Ikan Coelacanth saat ini hanya bisa ditemukan di dua wilayah dunia yaitu di Afrika (perairan pulau Comoro, Tanzania) dan Indonesia (perairan Sulawesi Tengah dan Utara).

"Di Afrika 'fosil hidup' ikan ini ditemukan pada tahun 1938, sementar di Indonesia baru ditemukan pada tahun 1997," jelas Djoko.

Ikan Coelacanth ditemukan hidup di kedalaman laut 200 meter. Salah satu faktor yang membuatnya sulit untuk ditemukan.

7 Ikan Teraneh di Dunia Versi On The Spot

1 Four Eyes Fish (Ikan bermata empat)

Ikan ini termasuk dalam genus anablepidae yaitu ikan yang hidup di muara sungai bagian selatan Mexico hingga bagian selatan Amerika Selatan. Ikan ini hanya dapat hidup di air tawar dan air payau. Mereka memiliki mata yang terletak di bagian atas kepala dan terbagi dalam dua bagian yang berbeda, sehingga mereka dapat melihat bagian permukaan air dan bawah air dalam waktu yang bersamaan. Ikan ini sebenarnya hanya memilki 2 buah mata, namun kedua matanya yang terletak di bagian aras kepala terbagi menjadi 2 bagian, yakni bagian atas dan bawah yang dipisahkan oleh lapisan jaringan yang tipis. setiap bagian mata memiliki pupilnya sendiri. bagian mata atas untuk melihat di udara (atas permukaan air) dan bawah untuk melihat ke dalam air. ketebalan lensa mata bagian atas dan bawah pun berbeda, semakin ke bawah semakin tipis.

2 ikan kelelawar berbibir merah (Red Lipped Batfish)
ikan ini terlihat seperti memakai lipstik. Ikan ini hidup di perairan Kepulauan Galapagos. Red Lipped Batfish merupakan perenang yang buruk, sehingga ia menggunakan sirip dadanya untuk berjalan di dasar laut. Ketika mulai tumbuh dewasa, sirip punggung ikan ini akan bersatu dengan tulang belakangnya sehingga akan terlihat menarik bagi mangsanya.

3 spookfish (ikan hantu)
Ikan ini memiliki wajah yang cukup menyeramkan ..
cuma belum ada penjelasan lebih lanjut. hanya menjelaskan tentang barreleye

4 Barreleye Fish - genus Macropinna microstoma (Ikan Kepala Transparan)

Masih satu keluarga dengan ikan hantu, ikan ini memiliki kepala transparan yang cembung dan berisi cairan bening. Bagian pangkal mata dan organ dalam kepalanya terlihat jelas dari luar. Terdapat dua gundukan warna kuning kehijauan seperti setengah kuning telur di belakang pangkal mata. Kedua benda itu diyakini berfungsi sebagai mata. Di belakang dua “benda kuning” itu terlihat serat-serat berwarna krem seperti jaringan daging yang sudah pucat. Dengan ukuran siripnya yang besar, membuat dia tetap seimbang. Dia hidup tepat di batas terbawah kemampuan sinar matahari menembus kedalaman laut. Pada posisi tersebut membuat dia tak terlihat dengan jelas oleh hewan-hewan di sekitarnya. Hewan pemangsa maupun mangsanya sendiri yang bersembunyi di atas tidak bisa melihatnya. Namun ikan ini mampu melihat keatas karena matanya dapat diputar lurus ke sepan ataupun ke atas. . Ini sangat menakjubkan. Para peneliti percaya, matanya yang berwarna hijau kekuningan itu telah berkembang membentuk saringan cahaya yang memungkinkan untuk mengabaikan sinar matahari dan dapat melihat cahaya yang berpedar dari ikan kecil dan ubur-ubur yang merupakan makanan favoritnya. Lantas, apa fungsi kedua ‘matanya’ yang terdapat di depan? Menurut para ahli, sesungguhnya kedua mata ikan itu adalah nales, indra penciuman seperti lubang hidung manusia Barrelfish memiliki kristal cair pada matanya, yang terletak pada suatu tempat pada sebuah selaput kecil. Apabila kristal cair itu rusak, matanya akan mendapat tekanan sangat kuat dan kondisi itu akan membunuhnya. Sebab, kita tahu bahwa tekanan dalam laut pada kedalaman 600 meter ke bawah memang sangat kuat dan mematikan.

5 Flying Fish (Ikan Terbang)


Exocoetidae atau ikan terbang adalah familia ikan laut yang terdiri atas sekitar 50 spesies yang dikelompokkan dalam 7 hingga 9 genus. Ikan terbang ditemukan di semua samudra utama, terutama di perairan tropis dan subtropis di samudera Atlantik, Pasifik dan Hindia. Ciri utamanya yang paling menonjol adalah sirip dadanya yang besar, memungkinkan ikan ini meluncur terbang secara singkat di udara, di atas permukaan air, untuk lari dari pemangsa. Peluncuran mereka biasanya sejauh sekitar 50 meter, namun mereka dapat menggunakan dorongan pada tepi gelombang hingga dapat mencapai jarak setidaknya 400m

6 Ikan Bergigi dan Lidah Manusia

Ikan Bergigi Manusia. Seorang pemancing di Amerika Serikat terkejut bukan kepalang ketika ikan yang berhasil ditangkap itu, malah mengigitnya kencang. Dia tentu saja menjerit dan setelah diperiksa gigi ikan ini mirip gigit manusia. Seperti dilansir web.orange.co.uk edisi 24 September 2010, Frank Yarborough sedang memancing di Danau Wylie, South Carolina. Belum lama melempar kail, seekor ikan mengigit umpan lalu tersangkut. Frank girang bukan kepalang karena ikan yang terjerat itu sungguh besar. Warnanya gelap dan memiliki berat sekitar 5 kilogram dengan panjang hampir setengah meter. Yarborough menduga itu adalah ikan lele. Dia pun memasukkan tangannya ke dalam air untuk mengambil ikan tadi. Tetapi, dia merasa kaget dan menjerit karena didigit kencang seperti digigit manusia. Setelah diperiksa ikan itu memang rada langka. Diamemiliki gigi seperti gigi seri, geraham, dan taring seperti yang dimiliki manusia. Tidak seperti ikan di danau itu pada umumnya. Ikan langka itu ditangkap dan dibawa pulang. Yarborough belum terpikir untuk menggorengnya. Hingga kini masih tersimpan di dalam lemari es. Para ahli biologi percaya ikan itu mungkin dibesarkan dalam sebuah kolam yang eksotis. Robert Stroud, seorang ahli biologi perikanan air tawar Departemen Sumber Daya Alam di Carolina Selatan, telah mengkonfirmasi adanya sampel ikan itu. Sampel ikan itu telah dikirim untuk menentukan apa jenis spesies ikan misterius itu.

7 Handfish (Ikan Bertangan)

Penampakan ikan ini terlihat sektar tahun 1990-an dan ikan ini merupakan salah satu jenis terbaru dari ikan bertangan lainnya. Ikan ini tampak ganjil karena tidak berenang dan itu menjelaskan kalau kenapa lokasi ikan ini adanya di dasar lautan. Yang anehnya ikan ini menggunakan "tangannya" yg seharusnya menjadi sirip untuk berjalan. Lokasi ditemukan ikan tersebut ada di daerah Tasmania,Pulau Australia. Kulitnya dilapisi denticle (semacam sisik yang kasar/bergigi-gigi) sehinga ia dijuluki warty anglers (wart = kutil). ukurannya sekitar 15cm.

Video Piranha Memakan Bebek

Delapan Spesies Ikan Baru Ditemukan di Bali

Ilmuwan dari Conservation International mengklaim telah menemukan delapan spesies ikan baru serta satu spesies batu karang baru di perairan Bali.

Spesies-spesies baru itu termasuk belut dan ikan damsel, yaitu ikan kecil dengan warna-warni cerah yang kerap berkeliaran di sekitar bebatuan karang. Demikian seperti dilaporkan Straits Times dan dikutip AlgoritmaNews.

"Kami telah mengadakan survei kelautan di 33 tempat di sekitar pulau Bali. Kami berhasil mengidentifikasi 952 ikan koral, dan diantaranya kami menemukan 8 spesies baru," jelas ketua tim peneliti Mark Van Nydeck Erdmann.

Survei itu dilakukan di beberapa daerah wisata ternama Bali seperti Tulamben yang terkenal sebagai lokasi menyelam favorit, Nusa Dua, Gilimanuk serta Pemuteran, pada kedalaman 10 hingga 70 kilometer.

Erdmann mengklaim belum memberikan nama untuk kedelapan spesies baru itu. Namun mereka masuk dalam genus Siphamia, Heteroconger, Apogon, Parapercis, Meiacanthus, Manonichthys, Grallenia dan Pseudochromis.

Dalam survei selama dua pekan itu, tim peneliti juga menemukan satu spesies baru dari batu karang Euphyllia atau koral busa.

Ikan Anakan di Wakatobi Tereksploitasi

Informasi minim dan ketiadaan pengaturan penangkapan ikan yang baik membuat sumber daya hayati laut di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, terancam. Bertahun-tahun, ikan belum dewasa atau juvenile ditangkapi. Kini, nelayan beralih ke budidaya rumput laut.

Tangkapan teripang menurun kualitasnya. Beberapa tahun lalu teripang super berisi tiga ekor per kilogram. Kini, 150 ekor per kg. Lokasi penangkapan pun makin jauh ke luar pulau.Tahun 2007-2010 warga bersama Operation Wallacea Trust mengecek perikanan Wakatobi. Hasilnya, 80 persen tangkapan ikan belum dewasa. Bahkan, 100 persen tangkapan ikan kakatua merah belum dewasa.

"Ternyata cara kami salah dan harus diubah. Kami orang pulau bergantung pada sumber daya laut. Kalau laut habis, habis pula kami," kata Ketua Forum Kaledupa Taudani (Forkani) La Beloro di Kaledupa Wakatobi.

Koordinator Program WWF, Sugiyanta, menjelaskan, penangkapan juvenile berpotensi menimbulkan kelangkaan ikan karena ikan ditangkap sebelum sempat bertelur. ”Seharusnya, beri kesempatan ikan untuk bertelur sekali dalam hidup,” katanya.

Penangkapan ikan juvenile karena nelayan sulit menangkap ikan dewasa di perairan setempat. Penangkapan dan permintaan ikan berlebihan membuat jumlah tangkapan tak terkontrol. Kondisi itu gambaran umum perikanan tangkap di Wakatobi.

Rumput laut

Kini, nelayan Kaledupa mulai budidaya rumput laut yang dikenalkan tahun 1990-an. Mereka swadaya memasang tali apung dan dasar untuk menebar benih rumput laut di sekitar pulau. Di Kaledupa dan Derawa, tali-tali apung tersebar hingga 1 kilometer dari garis pantai.

Menurut Kepala Bidang Pengembangan Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Wakatobi Bahrul Haer, pihaknya berusaha mengatur perikanan tangkap setempat agar ramah lingkungan. Untuk menghindari penangkapan ikan juvenile, nelayan diminta tak memakai mata jaring berukuran di bawah 1 inci. "Kami sarankan minimal 2 inci. Pelaksanaannya kembali ke masyarakat. Kami sulit mengawasi nelayan satu per satu," ujarnya.

Kabupaten Wakatobi seluas 1,39 juta hektar ada di kawasan Taman Nasional Laut Wakatobi. Pemerintah daerah mendorong budidaya rumput laut karena permintaannya sangat menjanjikan dan lebih ramah lingkungan. Setiap tahun ratusan ton rumput laut kering dijual ke Kabupaten Bau-bau seharga Rp 9.000 per kg.

Benarkah? Konsumsi Ikan Kurangi Risiko Kebutaan

SATU lagi penelitian terbaru menunjukkan manfaat dari makan ikan. Wanita yang sering mengonsumsi ikan dalam pola makannya akan memiliki risiko rendah menderita kebutaan di usia senjanya.

Mengonsumsi ikan harus mulai jadi kebiasaan dalam pola makan dalam keluarga karena khasiatnya bagi kesehatan. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan, wanita yang mengonsumsi ikan secara teratur memiliki risiko lebih rendah menderita penyakit degenerasi makular berkaitan usia (age-related macular degeneration/AMD), yaitu penyakit mata yang biasanya berkembang pada seseorang berumur di atas 50 tahun. Selain ikan, efek yang sama juga berlaku pada jenis bahan makanan lain yang mengandung asam lemak omega-3.

Ini Dia.. Makan Ikan Kurangi Risiko Kebutaan

Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan, mengkonsumsi asam lemak Omega 3, yang biasa ditemukan pada ikan salmon dan tuna, bisa mengurangi risiko kebutaan terkait kondisi Age-related Macular Degeneration (AMD), atau karena usia lanjut.

Berdasarkan penelitian itu, dengan hanya mengkonsumsi satu atau dua porsi ikan setiap pekan, risiko kehilangan penglihatan di kalangan wanita usia lanjut bisa ditekan hingga 42 persen.

Penemuan itu mendukung riset sebelumnya yang menunjukkan hasil serupa di kalangan pria. Dr William Christen dari Harvard Medical School mengklaim, manfaat terbesar ditemukan pada ikan 'berdaging gelap'.

"Risiko yang lebih rendah terutama dikarenakan mengkonsumsi ikan tuna kalengan dan ikan berdaging gelap," cetusnya, seperti dilansir Telegraph.

Penderita AMD diperkirakan bertambah tiga kali lipat dalam kurun 25 tahun ke depan, menyusul populasi yang bertambah tua. Karena itu, fakta ini menjadi temuan berharga di kalangan medis.

Dr Christen dan timnya menanyakan lebih dari 38 ribu wanita untuk mempelajari efek konsumsi asam lemak Omega-3. Partisipan diminta mengisi kuesioner untuk menjawab pertanyaan seputar kebiasaan makan mereka, termasuk berapa banyak asam lemak omega-3 yang mereka konsumsi.

Belakangan, diketahui, mereka yang mengkonsumsi asam lemak Omega-3 paling banyak memiliki tingkat risiko AMD 38 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang paling sedikit mengkonsumsi Omega-3.

Loading..

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More