AlgoritmaNews Adalah Situs Berita Perkembangan Teknologi Terkini Yang Ter Update Setiap Hari | Mulai Dari Berita Teknoligi, Sains, Perbintangan, NASA, Satelit, Tips Trik Mengatasi Masalah Yang Terjadi Pada Prangkat Teknologi dan Masih Banyak Info Menarik Lainya.
Promo Web Hosting 500mb Bw Unlimited Cuma Rp.50rb Untuk 10 Pendaftar Pertama Order disini

Showing posts with label Komet. Show all posts
Showing posts with label Komet. Show all posts

NASA Saksikan Komet Menabrak Matahari

NASA telah merilis gambar video dari komet yang menabrak matahari awal bulan ini, setelah kejadian tersebut berhasil direkam oleh pesawat tanpa awak milik lembaga antariksa Amerika Serikat (AS) tersebut.

SoHo, sebuah Heliospheric Observatory yang merupakan operasi gabungan Eropa dan AS tersebut, merupakan pesawat tanpa awak pertama yang melihat komet tersebut menabrak matahari. Komet tersebut menimbulkan ekor yang panjang sebelum menghilang setelah tertelan matahari.

Komet tersebut masuk ke dalam daftar 10 komet teratas dari 2 ribu komet yang pernah dilihat oleh SoHo menabrak matahari, semenjak pertama kali diluncurkan pada tahun 1995. Demikian seperti yang dikutip dari SkyMania.

Satelit kembar NASA lainnya yang bernama Stereo juga melihat peristiwa tersebut dari sudut pandang yang berbeda. Komet tersebut diidentifikasi sebagai jenis Kreutz, sebuah pecahan dari komet raksasa yang terpisah dari bagian aslinya, sekira 2 ribu tahun yang lalu, mungkin dikarenakan orbitnya yang dekat dengan matahari.

Jenis komet Kreutz ini dinamakan setelah Heinrich Kreutz, seorang ahli astronomi Jerman abad 19, yang mempelajari komet-komet yang menabrak matahari, yang dianggap sebagai hal lumrah.

Sebelumnya tidak ada komet yang begitu dekat dengan Matahari, meski pada bulan Maret 2010 melalui coronograph SoHo, terdeteksi pula sebuah komet jenis Kreutz juga mendekati Matahari, dan mungkin akan mengalami nasib yang sama dengan yang lain.



Refrensi

Komet Baru Akan Melintasi Bumi Tahun 2013

Sebuah komet baru akan melintasi Bumi pada tahun 2013, dan akan bisa dilihat dengan mata telanjang, ujar para ahli astronomi.

Teleskop Pan-STARRS 1 di Hawaii mendeteksi sebuah komet yang disebut C/2011 L4 (PANSTARRS). Lalu penemuan tersebut diikuti dengan penelitian beberapa hari sesudahnya. Demikian seperti yang dikutip dari Space.com.

"Komet tersebut akan mendekat dengan jarak 50 juta km dari Matahari pada bulan Februari atau Maret 2011; sebuah jarak yang sama dengan planet Merkurius," ujar para peneliti.

Selama jarak terdekatnya itu, komet C/2011 L4 (PANSTARRS) akan dapat dilihat dari Bumi di langit sebelah barat setelah matahari terbenam.

"Komet tersebut memiliki orbit mirip dengan sistem parabolik, yang berarti komet tersebut adalah kali pertama mendekati matahari, setelah itu tidak akan kembali lagi," ujar Richard Wainscoat dari University of Hawaii. Wainscoat adalah salah satu orang yang ikut mengkonfirmasi keberadaan dari komet baru tersebut.

Saat ini, C/2011 L4 (PANSTARRS) berjarak 1,2 miliar km dari Matahari, yang menempatkannya di belakang orbit planet Jupiter. Jadi, saat ini cukup sulit bagi ilmuwan untuk melihatnya.

Teleskop Pan-STARR 1 menemukan komet baru tersebut ketika sedang meneliti langit mengenai kemungkinan ancaman asteroid yang membahayakan Bumi. "Tapi komet C/2011 L4 (PANSTARRS) sendiri tidak membahayakan planet kita," ujar pihak peneliti.

Dalam beberapa bulan ke depan, para ahli astronomi akan terus mempelajari komet C/2011 L4 (PANSTARRS).
 

Pemburu Komet Masuki Masa Hibernasi

Rosetta, wahana antariksa si pemburu komet yang telah beroperasi 10 tahun, segera memasuki masa hibernasi. Pada masa ini sebagian perangkat wahana antariksa ini akan mati. Bahkan, wahana antariksa ini akan putus kontak dengan pengendali misi di Bumi.

Paolo Ferri, pimpinan Divisi Operasinal Misi Planet dan Matahari di Space Operation Center Eurpean Space Agency (ESA), mengatakan, "Hibernasi adalah langkah penting untuk mencapai target final." Hibernasi penting untuk penghematan energi sehingga bisa menempuh jarak jauh dari matahari.

Selama masa hibernasi, hanya perangkat komputer dan beberapa pemanas yang akan tetap hidup, menjaga agar perangkat penting dalam wahana ini tak membeku. Perangkat tersebut akan bekerja dengan energi yang diperoleh lewat panel surya seberat 3 ton yang dimiliki wahana ini.

Berdasarkan press release ESA, masa hibernasi akan berakhir 20 Januari 2014 atau 31 bulan kemudian. Saat itu, wahana ini diharapkan telah mendekati target berikutnya, komet 67/P Churyumov-Gerasimenko yang berjarak 675 juta kilometer dari Bumi.

Pada tanggal tersebut, wake up call akan dikirimkan ke Rosetta. Selama beberapa minggu kemudian, pengendali misi di Bumi akan melakukan program pemanasan dan pengaktifan kembali sehingga Rosetta siap menjemput komet impiannya pada Juli 2014.

"Dengan 'kunjungan' ke asteroid Steins tahun 2008 dan Lutetia tahun 2010, Rosetta telah menghasilkan penemuan ilmiah yang mengagumkan," kata Ferri, seperti dikutip Dailymail. Ke depan, Rosetta diharapkan menghasilkan penemuan lebih memukau.

Atmosfer Titan Hasil Tumbukan Komet

Titan, salah satu bulan planet milik Saturnus, diketahui merupakan satu-satunya benda di tata surya yang memiliki atmosfer berkadar nitrogen dan densitas tinggi. Saking tingginya, tekanan di atmosfer Titan mencapai 50 persen lebih tinggi dari Bumi.

Atmosfer seperti yang dimiliki Titan biasanya terbentuk ketika bulan itu telah terdiferensiasi menjadi inti, mantel, dan lempengan. Namun, eksplorasi wahana luar angkasa Cassini pada 2004 menemukan bahwa Titan belum sepenuhnya terdiferensiasi.

Sebelumnya, ada beberapa teori tentang pembentukan atmosfer Titan. Ada teori yang mengatakan bahwa nitrogen terbentuk dari pemecahan molekul ammonia di atmosfer oleh Matahari, ataupun berasal dari gunung berapi. Tetapi, proses itu menuntut temperatur tinggi.

Ide bahwa atmosfer terbentuk lama setelah Titan ada didukung oleh penelitian dengan wahana luar angkasa Huygens yang meneliti Titan pada 2005. Titan diketahui memiliki kadar argon yang rendah. Kadarnya akan lebih tinggi bila atmosfer terbentuk bersama bulannya sendiri.

Hadir dengan teori baru, peneliti Universitas Tokyo, Yasuhito Sekine, mengatakan, "Kami berpendapat, nitrogen di atmosfer Titan terbentuk setelah pembentukan Titan sendiri, lewat proses konversi ammonia dalam periode Late Heavy Bombardment sekitar 4 miliar tahun lalu."

Late Heavy Bombardment dikenal sebagai sebuah periode di mana benda angkasa seperti komet dan asteroid membombardir 100.000 kali lebih sering dari saat ini. "Hujan" komet dan asteroid pada masa itulah yang dimaksud Sekine menjadi pemicu pembentukan atmosfer Titan.

Sebelum mengemukakan pendapatnya, Sekine melakukan eksperimen laser gun untuk membuktikan bahwa nitrogen terbentuk dalam tumbukan pada es ammonia yang merepresentasikan kerak Titan. Kalkulasi membuktikan bahwa Titan memiliki cukup nitrogen untuk membentuk atmosfer saat ini.

Studi Sekine dipublikasikan di jurnal Nature baru-baru ini. Sekine mengatakan, studi lebih detail tentang atmosfer dan es benda angkasa di tata surya luar, termasuk komet, akan membantu menerangkan dengan akurat pembentukan atmosfer Titan.

Bumi, seperti Titan, merupakan planet yang atmosfernya didominasi oleh nitrogen. Namun, rasio isotop nitrogen di Titan dan Bumi berbeda. Hal itu mengindikasikan bahwa Bumi mendapatkan sumber nitrogen yang juga berbeda.

Dengan Flickr, Astronom Ungkap Orbit Komet

Dua astronom profesional menemukan orbit komet menggunakan foto-foto yang diunggah pengamat amatir ke internet.

Dengan menggunakan mesin pencari internet Yahoo, Dustin Lang dari Princeton University dan David Hogg dari Max-Planck-Institut fur Astronomie di Jerman menemukan 2.476 foto unik komet 17P/Holmes. Komet Holmes merupakan obyek paling terang di sistem tata surya dan menarik para astronografer di seluruh dunia.

Pesawat Pemburu Komet 'Tutup Usia'

Setelah 12 tahun berjasa, Stardust akhirnya dimatikan.

Dengan satu klik pada mouse, Sandy Freund Kasper mengirimkan perintah ke pesawat pemburu komet tanpa awak milik NASA, Stardust, untuk membakar seluruh bahan bakarnya. Perintah ini memulai sebuah rangkaian pemberhentian operasi Stardust yang telah berjasa untuk ilmu astronomi selama 12 tahun.

"Rasanya seperti mengucapkan selamat jalan pada seorang teman," kata Allan Cheuvront, program manager Stardust dari perusahaan Lockheed Martin. Dia terlibat dengan Stardust sejak 1996, saat megaproyek itu masih berupa desain.

Loading..

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More