Pantai Suluban, Surga Para Peselancar yang Tersembunyi di Bali
Lasiana, Pantai Penuh Pohon Lontar
Pantai Lasiana terletak di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Daya tarik lain pantai ini adalah pengunjung bisa melihat proses pembuatan gula lempeng khas penduduk Nusa Tenggara Timur. Gula lempeng dibuat dari air sadapan pohon lontar. Di perjalanan menuju Pantai Lasiana, Anda akan menemukan para pembuat gula lempeng.
Jika Anda berkunjung di hari kerja, pantai ini sangat sepi. Sebaliknya, pantai ini akan sangat padat oleh masyarakat yang berwisata bahari di akhir pekan. Karena karakter ombak dan arus laut yang cenderung tenang, pantai ini cocok sebagai tempat berenang atau sekadar bermain air. Apalagi air di Pantai Lasiana selalu tampak bening dasarnya yang berpasir putih.
Keluarga yang membawa anak-anak pun menjadikan pantai ini pilihan utama untuk berekreasi. Apalagi pantai yang tak berkarang, aman untuk anak-anak berlari-lari. Jika Anda gemar mencari kerang di pantai, bersiaplah kecewa. Di pantai ini sangat susah untuk menemukan kerang. Anda hanya akan menemukan cangkang-cangkang keong.
Datanglah di akhir pekan, para pedagang berlomba-lomba memanjakan lidah pengunjung. Aroma ikan bakar akan menyeruak di udara dan suara seruputan es kelapa muda mengundang air liur.
Salah satu waktu terbaik untuk datang melihat pemandangan atau mengambil foto adalah saat matahari tenggelam. Sementara di pagi atau siang hari, Anda bisa saja berkesempatan melihat para pemancing mencari ikan. Sensasi lain bisa Anda temukan jika datang di kala subuh untuk menyaksikan matahari terbit. Inilah keunggulan pantai Lasiana, Anda bisa melihat matahari terbit dan matahari terbenam.
Di Pantai Lasiana yang panjangnya mencapai dua kilometer ini terdapat beberapa pondok untuk bersantai. Sayangnya, beberapa pondok tampak tak terawat. Tumpukan sampah juga menjadi pemandangan yang merusak keindahan Pantai Lasiana.
Dulu, pantai ini pernah mengalami masa kejayaan sebagai obyek wisata favorit wisatawan asing. Namun, kondisi Pantai Lasiana perlahan-lahan mulai memprihatinkan. Walau begitu, pantai ini tetap menjadi favorit wisatawan lokal di Kupang. Kupang juga memiliki pantai-pantai lain yang indah. Salah satunya adalah Pantai Tablolong yang cocok untuk snorkeling.
6 Jalur Pendakian Terbaik di Asia
Ditambah lagi adanya aktivitas vulkanik di Kepulauan Pasifik. Hasilnya adalah tempat yang fantastis bagi para pejalan dan pendaki.
Kawasan ini memiliki banyak pemandangan indah, dari pantai-pantai yang hangat, hutan tropis, hingga pegunungan bersalju. Kali ini, kami menyoroti jalur pendakian yang mendekatkan Anda pada alam. Dan inilah daftar enam jalur pendakian terbaik di Asia.
Jalur Pantai Abel Tasman, Selandia Baru
Kredit foto - patleahy
Selandia Baru mungkin adalah salah satu negara terbaik di dunia untuk pendakian, sehingga akan salah besar jika saya tidak memasukkannya ke daftar ini. Meski ini pilihan yang sulit dan setiap orang punya opini pribadi, saya tetap pada pilihan favorit saya di Abel Tasman.
Berputar-putar sepanjang pesisir barat laut pulau Tasmania, Anda akan mendapatkan rute yang lumayan datar dan terus-menerus memberi Anda pemandangan laut. Tetapi, Anda tetap bisa menjelajahi flora dan fauna di sekitar situ. Menyeberangi sungai laut dan aliran air akan membuat perjalanan semakin seru, tapi sisakanlah waktu untuk duduk bersantai di beberapa pantai yang nyaris kosong dan masih bersih di sepanjang jalan.
Wilson Trail, Hong Kong
Kredit foto - yunmeng
Tak jauh dari kumpulan lampu neon dan asap polusi Hong Kong, ada jalur pendakian yang menarik. (Siapkan saja masker wajah jika Anda sensitif terhadap polusi). Anda bisa berjalan menuju New Territories untuk jalur pejalan kaki yang panjang dan berpemandangan indah, tapi Anda juga bisa menemukan jalur pendakian di Pulau Hong Kong.
Pilihan populer adalah Wilson Trail, jalur sepanjang 87 km dari Stanley di pulau sampai ke Nam Chung di Semenanjung Kowloon. Jalur ini akan melelahkan, tapi pemandangan yang akan Anda dapati dari puncak-puncak di sepanjang rute ini akan sebanding dengan usaha Anda.
Tebing Harimau Melompat, Cina
Kredit foto - hectorgarcia
Jika Anda menginginkan sebuah petualangan Cina yang luar biasa, maka pergilah ke Tebing Harimau Melompat. Di sana, Anda bisa mendaki sambil melihat lanskap menarik di salah satu tebing sungai terdalam di dunia. Dengan panjang 15 km, tebing ini diberi nama "Harimau Melompat" karena seekor harimau legendaris pernah melompat dari pinggir tebing untuk menyelamatkan diri dari seorang pemburu. Tetap saja, ini bukan lompatan yang mudah, karena pada jarak terdekatnya, lebar antartebing adalah 25 meter.
Jalur yang dinamai High Road ini agak sempit, tapi tetap terjaga dan memiliki beberapa perhentian akomodasi. Anda juga bisa berjalan lebih dekat ke sungai sehingga bisa merasakan kedalaman lembah tebing dan melihat air, tapi kadang jalur ini bisa tidak stabil dan kurang aman. Jalur tebing tidak aman untuk pendakian sepanjang hujan di musim panas.
Overland Track, Australia
Kredit foto - rickmccharles
Terletak di kawasan sepanjang 65 km di Australia yang paling indah, Overland Track di Tasmania adalah tempat yang harus Anda kunjungi jika berada di pulau ini. Dari Gunung Cradle sampai Danau St Clair terhampar keajaiban alam, dan di sepanjang jalan Anda bisa melihat beberapa gunung tertinggi di Tasmania dan air terjun indah. Jalur ini juga sangat cocok untuk melihat ekosistem unik di pulau ini. Cukup menantang tapi sepadan jika dibandingkan dengan jalur-jalur serupa di kawasan ini. Pastikan Anda meminta izin sebelumnya dan jagalah kebersihan.
Pegunungan Pamir, Tajikistan
Kredit foto - acordova
Tajikistan tampaknya mulai jadi tujuan populer, tapi masih sulit dicapai. Percaya atau tidak, Pegunungan Pamir yang menawan dan masih perawan ini menawarkan jalur pendakian dan jalan kaki yang sesuai untuk semua tingkat kebugaran. Anda membutuhkan izin (yang tidak mahal) untuk mengakses jalur-jalur ini. Mengingat jalurnya cukup terpencil, pastikan Anda membawa semua peralatan yang dibutuhkan dan persiapkan diri dengan cara-cara keselamatan di pegunungan. Gharm Chasma dan Julandee adalah titik-titik awal yang bagus untuk menjelajahi daerah ini. Jangan lupa membawa kamera!
Gunung Fuji, Jepang
Kredit foto - molas
Ada ungkapan seperti ini, "Anda bijak jika sekali mendaki Gunung Fuji, tapi bodoh jika mendakinya dua kali." Terletak sangat dekat dengan Tokyo, Gunung Fuji terlihat sangat besar dan sulit, tapi pendaki dari berbagai usia dan tingkat pengalaman sudah mendakinya tanpa kesulitan. Waktu terbaik pendakian adalah Juli-Agustus, cuacanya paling baik dan kebanyakan saljunya sudah meleleh.
Meski begitu, rutenya masih akan cukup berlumpur, jadi sepatu yang bagus harus disiapkan. Melihat matahari terbit di puncak Gunung Fuji adalah pengalaman yang surealis, tak banyak yang bisa membandinginya. Untuk melakukan ini, Anda harus mulai mendaki sejak siang, sehari sebelumnya. Lalu menginaplah di pondok-pondok yang tersedia di sepanjang jalan. Ini adalah pilihan populer; ada banyak pondok yang bisa Anda inapi dan sistemnya sangat mendukung turis. Hanya ingat, setelah Anda selesai, masih ada beberapa jam transportasi sebelum Anda kembali ke akomodasi (jika menginap di Tokyo). Dan itu berarti perjalanan panjang.
Pantai-Pantai Perawan Asli Gunung Kidul
Anda tentunya sudah mengenal Yogyakarta, soal pantai pastilah anda tahu tentang Parangtritis dan Depok. Memang kedua pantai tersebut memiliki daya tarik tersendiri, apalagi parangtritis, memiliki cerita yang legendaris terkait dengan cerita Nyi roro kidul tentunya. Tapi pernahkah anda dengar wisata pantai di daerah Gunung Kidul?. Salah satu kabupaten di propinsi DIY ini sebenarnya memiliki potensi wisata pantai yang tak kalah menarik, disana berderet lokasi-lokasi pantai dengan panorama masing-masing yang berbeda satu sama lain, sehingga tidak melihat suasana pantai yang itu-itu aja.
Sebut saja mulai dari pantai sundak, pantai krakal, pantai kukup dan pantai baron yang terkenal dengan pelelangan ikannya. Itu baru sebagian pantai yang sudah terkelola dengan baik, belum lagi pantai-pantai kecil yang masih belum banyak terjamah oleh wisatawan. Pantai krakal contohnya, memiliki bibir pantai yang cukup lebar dengan pasir berwarna putih dan ombak yang relatif tenang akan membuat anda merasa nyaman dan pemandangan yang masih alami akan membuat anda melupakan sejenak kesibukan kerja.
Dari kota Yogyakarta memakan waktu +/- 2-2,5 jam untuk mencapai kawasan pantai tersebut. Namun jangan khawatir sepanjang perjalanan anda akan menikmati pemandangan alami berupa bukit kapur putih di saat musim kemarau dan bukit hijau saat musim penghujan. Untuk bisa menikmati wisata pantai yang nyaman dan tenang, pastikan anda memilih waktu kunjunagn di luar musim puncak liburan.
pantai krakal
pantai drini
pantai baron
pantai ngobaran
pantai ngrenean
pantai wediombo
pantai sundak
pantai siung
pantai sepanjang
pantai nguyahan
pantai ngungap
berikut ini saya paparkan juga alat transportasi menuju lokasi
1. Jalur darat : Bis bisa digunakan untuk menuju ke objek wisata ini, bagi juragan yang berasal dari kota jogja bisa langsung menuju terminal giwangan(jogja) kemudian disambung lagi dengan bus jurusan Wonosari, setelah sampai di terminal wonosari juragan bisa naik lagi bus ke arah tanjung sari, tepus dan sekitarnya karena pantai2 tersebut berada di kecamatan tersebut. Selain bis juragan bisa menggunakan kereta api turun di stasiun tugu, kemudian dilanjutkan ke terminal giwangan, kemudian dilanjutkan ke rute yang sudah ane sebutin di atas
2. Jalur udara : Selain jalur darat di atas kita juga bisa menggunakan pesawat dengan tujuan Bandara Adi Sucipto, kemudian dari bandara agan bisa naik trans jogja ke jurusan terminal giwangan, kemudian dilanjutakn dengan rute seperti diatas
13 Pantai Wisata di Bali Tercemar Limbah Hotel

Kemajuan industri pariwisata berdampak buruk bagi pantai di Bali. Sebanyak 13 pantai yang menjadi tujuan wisata di Bali tercemar limbah hotel.
Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bali Anak Agung Alit Sastrawan mengatakan secara umum pantai di Bali mengalami pencemaran organik.
Diduga limbah yang mencemari pantai dibuang oleh hotel yang berada di pesisir pantai. "Kita sedang menelusuri hotel-hotel yang membuang limbah ke pantai," kata Alit melalui telepon.
Sebelumnya, Gubernur Bali Made Mangku Pastika mensinyalir pencemaran di beberapa pantai berasal dari limbah hotel dan restoran. "Mereka (hotel) maunya untung banyak, tapi tidak mau mengurus lingkungan," kata Pastika di sela-sela pertemuan dengan warga di Petitengget.
BLH merilis sebanyak 13 pantai di Bali yang tercemar limbah. Pantai tersebut sebagian besar merupakan pantai yang menjadi obyek wisata andalan Bali.
Pantai yang telah tercemar limbah adalah Pantai Kuta, Pantai Sanur, Pantai Mertasari (Sanur), Pantai Serangan (Denpasar), Pantai Benoa (Denpasar), Pantai Lovina (Buleleng), Pantai Soka (Tabanan), Pantai Tandjung (Kuta), Pantai Candidasa (Karangasem), Pantai Padangbai (Karangasem), Pantai Tulamben (Karangasem), Pantai Pengambengan, dan Pantai Gilimanuk (Jembrana).
Pantai tersebut disebut tercemar karena kualitas airnya dan kadar airnya sudah melebihi baku mutu. Beberapa pantai, kadar Biological Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) rata-ratanya mencapai lebih dari tujuh ppm, yaitu sudah di atas ambang batas. Selain kandungan fosfat, nitrat dan nitrit pantai-pantai tersebut juga melebihi baku mutu lingkungan.
Gili Sulat dan Gili Lawang Masih Alami
Siapa yang tidak kenal dengan Gili Trawangan? Ketiga pulau (Gili Air, Gili Meno dan Gili Trawangan) di Lombok Barat, NTB, sangat terkenal baik bagi wisatawan lokal ataupun asing. Non-motorised system yang diberlakukan di Gili Trawangan menjadikan pulau ini semakin menarik untuk dikunjungi. Dan bagi penggemar scuba divingdan snorkeling, surga bawah air di sekeliling pulau ini merupakan daya tarik tersendiri.
Kali ini saya akan berbagi cerita mengenai wisata bahari di Pulau Lombok, tapi bukan di Lombok Barat melainkan di ujung lain pulau ini yaitu Lombok Timur. Backpacking kami kali ini adalah di dua pulau kecil (gili) Sulat dan Lawang yang terletak di Kecamatan Sambelia, Lombok Timur. Berbeda dengan ketiga gili di Lombok Barat, kedua gili ini seolah belum tersentuh oleh komersialisasi dan kehebohan para pengunjung. Justru keindahan yang masih tersembunyi ini yang menjadi daya tarik tersendiri bagi kami.
Beranjak dari kota Mataram pada pukul 7 pagi dengan membawa perlengkapan snorkeling, antusiasme tidak dapat disembunyikan. Bahkan sarapan pun dilakukan di dalam mobil dengan nasi kuning, teri dan telur rebus. Maklum perjalanan menuju dermaga tempat boat yang akan membawa ke Gili Sulat dan Gili Lawang adalah sekitar 2,5 jam. Saya pandangi wajah ketiga teman saya yang masih mengantuk karena kemarin sepulang dari snorkeling di Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air, mereka menyantap durian di pasar Mataram. Ternyata perut mereka belum setahan perut saya orang Indonesia, sehingga satu orang harus berulang kali ke toilet tadi malam sedangkan yang dua orang lagi tidak bisa tidur karena kepanasan.
Begitu mobil mulai meninggalkan kota Mataram, pemandangan hamparan sawah ternyata mampu membuat mata mereka menjadi melek. Dinh tak henti-hentinya menjepretkan DSLR-nya sedangkan Yen sibuk bertanya kepada mbak Dewi dan mas Emon yang hari itu menemani kami. Mbak Dewi adalah seorang dosen di Mataram namun merupakan manusia ‘air’, julukan yang kami berikan karena kecintaannya pada segala sesuatu yang berhubungan dengan air. Sedangkan mas Emon adalah temannya sesama manusia ‘air’ yang hingga saat ini masih aktif sebagai pelatih renang, diving dan snorkeling.
Pagi itu sedikit berkabut setelah semalaman diguyur hujan. Hamparan sawah dengan latar belakang gunung Rinjani dengan puncak tersaput kabut, menampilkan keindahan alam Lombok di sepanjang jalan yang dilewati. Ketika matahari bersinar malu-malu dari balik gumpalan awan, dihatipun membuncah harapan akan hari yang cerah. Minggu pagi ini semakin hidup ketika mobil melewati pasar-pasar tradisional. Hiruk pikuk aktifitas jual beli memberikan keindahan tersendiri untuk dinikmati dikala mobil tersendat kemacetan pasar.
Tak terasa dua setengah jam pun berlalu dan kamipun sampai di tempat boat akan membawa kami ke kedua gili. Terlihat tiga orang pemuda sudah menunggu. Mereka adalah pemuda-pemuda yang dua orang diantaranya adalah atlet diving dan juga mengembangkan wisata bahari di dua Gili ini. Dengan bantuan dana PNPM mereka bisa melengkapi peralatan diving dan snorkeling sehingga bisa disewakan dan dananya digunakan untuk menunjang kegiatan-kegiatan disana.
Boat sederhana tanpa atap telah menanti. Kamipun langsung menaikinya. Perlengkapan snorkeling(fins, masker dan snorkeling) serta life jacket sudah tersedia. Life jacket ini sangat penting bagi saya dan kedua orang teman yang memang tidak bisa berenang. Sementara itu satu kotak air mineral, makan siang dan beberapa butir kelapa juga terlihat sudah ada di boat. Kami memang merencanakan untuk menyantap hidangan siang di Gili Sulat sambil menikmati hutan bakau (mangrove).
Perhentian yang pertama adalah diantara Gili Sulat dan Gili Lawang. Disini airnya tenang dan arusnya tidak kuat. Banyak terdapat ikan kecil beraneka warna dan terumbu karang. Kamipun tidak sabar menceburkan diri kedalam air, keindahan bawah air memang sungguh menawan. Sayang sekali kami tidak bisa mengabadikan keindahan bawah laut ini karena ketiadaan kamera bawah air. Setelah sekitar setengah jam berada di spot itu, boat pun berpindah kearah Gili Sulat dengan harapan bisa melihat ikan yang lebih banyak. Namun sepertinya kami kurang beruntung, sehingga yang terlihat hanyalah terumbu karang. Walaupun begitu, semangat bersnorkling tetap tidak pudar, maklum baru bisa ber-snorkeling-ria….he-he-he.
Tak terasa hari sudah menunjukkan pukul 12 siang dan perut pun sudah mulai keroncongan. Satu persatu pun menaiki boat yang kemudian menuju ke dermaga di Gili Sulat. Dermaga ini dibuat oleh departmen perikanan setempat yang bisa digunakan untuk tempat singgah dan beristirahat. Jalanan dari dermaga kedalam pulau adalah dari kayu dengan kiri kanan adalah tumbuhan mangrove. Sungguh pemandangan yang eksotis dan menenangkan.
Sambil menenteng bekal, tak henti-hentinya kamera dijepretkan dan sekali-kali bergaya dengan latar keindahan Gili Sulat. Panjang jalan ini sekitar 200 meter kedalam pulau. Perhentian adalah di tengah pulau dan bekal pun diturunkan. Sambil menikmati keindahan hutan mangrove, bekalpun mulai disantap. Air jernih disekitar hutan mangrove ini memantulkan bayangan kami dan kelebatan hutan. Sedikit-sedikit sinar matahari mencoba mengelus kulit.
Bekal dimulai dari ‘bantal’, istilahnya mbak Dewi untuk makanan Lombok yang terbuat dari ketan dengan isi pisang. Penganan ini dibungkus dengan daun kelapa yang dibentuk seperti ketupat. Sementara ini, Andri dan Deni, menyiapkan minuman berupa kelapa muda. Ternyata gabungan antara ‘bantal’ dengan air kelapa muda mampu mengganjal perut sehingga kami menunda makan siang. Selain masih kenyang, juga takut kalau kebanyakan makan akan berakibat kram pada saat ber-snorkelingnantinya.
Sambil berusaha mengais daging kelapa muda dengan menggunakan ’sendok’ dari kulit luar kelapa, acara jeprat jepret masih terus berlangsung. Bahkan Dinh dan Yen memanjat pohon mangrove untuk mendapat pose yang keren. Perut kenyang dengan suasana alami membuat mata mengantuk, apalagi tingkah suara satwa ibarat musik yang meninabobokan.
Hati dan pikiran seolah bekerja sama untuk menolak beranjak dari keindahan dan ketenangan hutan mangrove ini. Penyakit ‘kuap’ menyebar dengan cepat, seolah memberikan legitimasinya untuk tidak cepat-cepat meninggalkan pesona alam ini. Namun, bayangan akan keindahan laut juga menggoda.
Aaahh… sungguh suatu dilema, antara meninggalkan keindahan hutan mangrove dan membayangkan pesona bawah laut. Suatu pilihan yang sulit...
Akhirnya, setelah mengaso sejenak, kamipun berkemas untuk kembali bersnorkeling. Kali ini spot yang diambil adalah di depan Gili Sulat namun agak sedikit ke tengah. Dan satu persatu kami pun kembali menceburkan diri kedalam air. Kali ini kami beruntung, beragam ikan dari besar dan kecil terlihat bersileweran dimana-mana. Terumbu karang berwarna-warni menambah keindahan alam bawah air ini. Matahari yang semakin terik tidak menghentikan keasyikan menikmati pesona bawah laut ini, begitu juga ketika arus sudah mulai terasa kami tetap bergeming.
Pada saat arus semakin kuat, dengan berat hati acara wisata bawah air ini harus diakhiri. Waktu seakan berlari, padahal kami masih ingin berada dibawah air. Tak terasa sudah hampir pukul 3 sore, pestapun usai dan boatpun bergerak menantang arus kembali ke pulau Lombok. Terik mentari nyata membekas dikulit kami, namun dalam hitungan minggu akan hilang kembali. Tapi kenangan keindahan alam laut Gili Sulat dan Gili Lawang beserta keeksotikan hutan mangrovenya akan tetap membekas dihati. Insya Allah suatu saat kami akan kembali…
Mengintip Keindahan Rumah Mewah di Pantai Palm Jumeirah, Dubai

Akhirnya.. Pantai Kuta Sudah Bersih dari Sampah
"Saya sudah ke Pantai Kuta. Saya potret-potret sudah bersih kok," kata Wacik kepada detikcom usai menemani Presiden SBY bertemu dengan Bank Dunia di Hotel Intercontinental, Jimbaran, Bali.


